LEMBAGA SURVEY, BUBAR JALAN.. GRAK !

01 Jul 2018

LEMBAGA SURVEY, BUBAR JALAN.. GRAK !


LEMBAGA SURVEY, BUBAR JALAN.. GRAK !
_Menakar kualitas energi jati diri bangsa melalui survey survey an, elektabilitas elektabilitasan_
By
Baginda Adam Muhhamad Akbarnahu
_Pemerhati Energi Jati Diri & Martabat Bangsa_
__Human Al Haq True Self Resonance Navigator_

Kualitas energi jati diri bangsa adalah kolektif dari semua energi jati diri anak bangsa.
Frekuensi energi jati diri individu mempengaruhi kesadaran dan cara yang bersangkutan dalam memilih dan mengambil keputusan dan ini menyentuh semua lini dan aspek kehidupan.

Masih ingat pilkada DKI jaman foke dulu?
Survey kala itu mengatakan Foke diatas angin, namun kenyataannya?
Begitu pula ketika pilkada DKI Anies Sandi lawan Ahok Jarot?, hasilnya?

Belum cukup itu, ingat 5 tahun lalu pada Pilkada Gubernur Jabar tahun lalu (2013), paslon Oneng – Teten unggul dalam quick count, bahkan mereka sempat press conference merayakan keunggulannya tsb.

Namun berkat militansi tim paslon Aher – Demiz, yang dimotori oleh kader-kader PKS dalam mengawal proses perhitungan suara sampai akhir. Pleno KPUD Jabar menetapkan kemenangan untuk Paslon Aher – Demiz. Dan keunggulan Oneng ternyata hanya berlaku di quick count saja.

Akan tetapi lembaga survey ini yang nota bene hidup dari bayaran kok tanpa bersalah masih saja tampil membadak tanpa malu?
Wajarlah, karena publik tahu bahwa lembaga survey ini memang notabene menjadi alat kampanye yang tentunya tergantung siapa yang menggunakan jasanya.

Lagi lagi mereka melakukan survey elektabilitas pilkada sekarang (Jawa barat, tampak di gambar) survey untuk paslon no 3, ternyata terbukti elektabilitasnya jauh melampaui margin of error yang ditetapkan.

Ilmu survey elektabilitas ini berdasarkan probabilitas / kemungkinan, dan variable pendukung serta margin of errornya.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Ingat dampak hasil survey elektabilitas selalu diumumkan, dan ini secara tidak langsung membentuk opini yang mempengaruhi masyarakat, namun sekarang rakyat cerdas, tidak terpengaruh sama sekali masalah itu.

*Mari kita lihat dari aspek margin of error*
Setiap survey pasti menetapkan margin of error.
Margin of error menggambarkan jumlah kesalahan yang biasa terjadi pada pengambilan sampel dalam survei yang dilakukan oleh peneliti.

Semakin besar persentase margin of error maka semakin jauh suatu sampel tersebut dapat mewakili populasinya. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil margin of error, maka semakin dekat suatu sampel dalam mewakili populasi sesungguhnya.

Margin of error yang lebih rendah tidak menjamin suatu survei lebih kredible daripada hasil survei lainnya. Karena, margin of error hanya membatasi besar kesalahan maksimal yang ada dalam survei.

Mari kita ambil contoh,
Versi LSI DJA 7.9%, berarti margin of errornya mencapai diatas 20%, wow…belum lagi versi surveyor lainnya yang notabene ndak jauh beda meseletnya, sehingga bisa juga disebut *meleset berjamaah*.

Dengan margin of error seperti ini, maka sama juga underlying messagenya bahwa semua lembaga surveyor ini mengatakan bahwa yuuk kita bubar jalan… grak !, alias janjian untuk bareng bareng membubarkan diri sebagai lembaga surveyor, dikarenakan kesalahan yang berulang yang selalu dilakukan.

Maka, sekali lagi apa yang terjadi, bukankah dasar ilmu lembaga surveyor tersebut adalah ilmu statistik yang katanya ilmiah?, atau apakah karena pesanan tertentu maka mereka mencederai ilmu statistik?

Jika betul melakukan hal diatas, maka lembaga surveyor tersebut mencederai integritas intelektual, dan ini bisa dimasukkan dalam kategori pelacur intelektual, serta melakukan pembohongan publik berencana.

Atau metodenya yang dilakukan tidak tepat?, jika seperti ini maka dipertanyakan kredibilitas lembaga surveyor tersebut,
atau bisa saja ilmu tersebut sudah usang tidak layak lagi digunakan? atau ada variabel yang unpredictible?

*Variabel apa yang tidak diperhitungkan*
(1) *Variable floating mass / massa mengambang*
Massa ini yang tidak diperhitungkan, termasuk massa yang sudah cerdas sekarang ini, yang notabene tidak terpengaruh oleh rayuan mesin politik apapun.

(2) *Varible Elektabilitas Partai*
Demokrasi di Indonesia kecendrungan paslon mempunyai partai pengusung (meskipun dimungkinkan untuk independen), nach bagaimana elektabilitas partai ini di mata masyarakat?, bagaimana kiprahnya selama ini?
Masyarakat sekarang tidak melihat paslonnya, namun partai apa yang ada dibelakangnya.

(3) *Variable doa dari rakyat yang tertindas dan pejuang bangsa*
Faktor doa adalah intangible / tidak dapat di kuantifisir / dihitung, hal inilah yang paling sulit dan tidak terjangkau oleh ilmu statistik, namun inilah energi pendongkrak sekaligus penghancur segala hal yang mencederai kebenaran Ilahi, apalagi doa dari orang orang yang tertindas, sungguh jalan tol untuk di ijabah oleh-NYA, termasuk doa orang orang tulus pejuang bangsa.

Maka, marilah kita semua mengembalikan energi jati diri bangsa agar harmoni dengan energi integritas dan rasa keadilan yang seharusnya menjadi panglima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk kehidupan yang bermartabat.

Seperti yang dikatakan oleh Joseph Stalin, pemimpin Uni Soviet,
*“Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari pemilu. Namun orang-orang yg menghitung vote itulah yg menentukan hasil dari pemilu”*

Lereng gunung gede, Minggu, 1 Juli 2018