Merdeka dari Kemerdekaan semu

17 Aug 2018

Merdeka dari Kemerdekaan semu


*Merdeka dari Kemerdekaan semu*
By
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
_Pemerhati Energi Jati Diri & Martabat Jati diri manusia_
__Human Al Haq True Self Resonance Navigator_

_Sebuah kajian implementasi pembangunan Ketahanan Nasional melalui pertumbuhan Ketahanan Pribadi / Human Capital yang tangguh melalui Kecerdasan Resonansi Jati Al Haq / Al Haq Self Inner Leadership_.

“Harusnya kita menyediakan suatu negara merdeka dan berdaulat yang layak dibanggakan kepada anak cucu kita, yaitu negara yang mandiri bermartabat dalam semua aspek”
B-AMA, Al Haq Scientific Wisdom

Saya justru sangat prihatin sekali ketika berjumpa lagi dengan 17 Agustus di tahun 2018 ini menginjak usia ke 73 tahun, sebab sebagai hari Kemerdekaan RI, kecendrungan yang heboh di ceremonialnya saja, sedangkan hakekat Kemerdekaan itu sendiri masih sangat jauh terwujud.

Harusnya makna kemerdekaan suatu bangsa diantaranya meliputi :
(1) Merdeka dalam kemandirian bermartabat dari tekanan Luar Negri

(2) Merdeka dari hegemoni internal bangsa.
Kita harus merdeka terhadap pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat.

(3) Merdeka dalam kemandirian bermartabat sistem ekonomi berlandaskan ruh konstitusi.

(4) Merdeka dalam kemandirian bermartabat lingkup
* Ketahanan Sosial Budaya
(Ketuhanan Yang Maha Esa, Tradisi Positif (Kearifan lokal positif),
* Ketahanan Ideologi, Politik, Ekonomi, dan Hankam.

Apakah 4 point diatas hanya sekedar jargon semata atau riel?
Jelas bisa riel untuk diwujudkan asal kita semua sebagai anak bangsa luhur dan tulus untuk mewujudkan, merdeka dari segala bentuk nepotisme dan golongan.

*Renungan pesta Kemerdekaan*
Seperti yang pernah saya urai pada tulisan saya pada waktu menyambut kemerdekaan RI dua tahun yang lalu,..
*Indonesia* dan *Korea Selatan* merdeka pada hari yang berdekatan.

*Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945,*
*Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945.*

Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu *lebih miskin* dari Indonesia, sekarang *Korea Selatan menempati urutan *Papan atas Negara Maju.* di Dunia

Hmmm …. hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya … !

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya? Jawabannya, pasti *tidak.*
Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Bagi mereka, *”Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea”.*

Setelah merdeka dari Jepang, Korea pecah menjadi Korea Utara dan Selatan, saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah, namun terbukti sekarang mereka justru melampaui kita sebagai negara maju.

*Martabat Jati diri Bangsa*
Jati diri Bangsa adalah jati diri setiap anak bangsa secara kolektif.
Kualitas jati diri Bangsa membentuk kualitas martabat suatu Bangsa.
Mattabat jati diri Bangsa membentuk kualitas ketahanan nasional itu sendiri.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan begini,
*Kemajuan kemerdekaan suatu Bangsa tidak cukup hanya Pembangunan fisik dan Kemakmuran merata (dimana hal ini juga masih diperjuangkan oleh Bangsa ini), namun bagaimana Kualitas Martabat Jati diri bangsanya, otomatis mencerminkan Kualitas Jati diri Human Capitalnya*

*Dan inti dasar dari Human Capital adalah bagaimana setiap pribadi telah MERDEKA dari semua sisi gelap dirinya serta bagaimana bisa bermanfaat pada sesama, itulah fondasi Keharmonisan, Kerukunan dan Kesatuan serta Persatuan yang solid kokoh Bangsa Indonesia*

Semoga Bangsa kita selalu mendapat bimbingan dan arahan NYA untuk menjadi Bangsa yang besar dan Bermartabat.

Lereng Gunung Gede, 17 Agustus 2018