BETULKAH UMAT MUSLIM ANTI PANCASILA DAN ANTI KEBHINEKAAN?, SUATU KAJIAN RASIO PANCASILA DAN INNER PANCASILA MELALUI KECERDASAN RESONANSI JATI DIRI

*# BETULKAH UMAT MUSLIM ANTI PANCASILA DAN ANTI KEBHINEKAAN?, SUATU KAJIAN RASIO PANCASILA DAN INNER PANCASILA MELALUI KECERDASAN RESONANSI JATI DIRI #*

Membumikan Pancasila sebagai ideologi Bangsa di kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mewujudkan pengamalan Pancasila melalui butir butir Pancasila.
Menggali ekstrak energi jati diri Pancasila.
Tulusan 1 dari 7 tulisan

*Al Haq Inner Rahmatan Lil Alamin Movement*
â›” NO â›”
Crime, Hate Spech, Brutality, Againts Humanity, Vileness, Personal Harmness

“Pancasila adalah denyut wujud rasa dan kekuatan Tauhid, perekat keberagaman, fondasi Nation Building, penguat kejayaan Bangsa, inilah bagian dari keagungan Al Haq Inner Rahmatan lil Alamin” B-AMA, Al Haq Scientific Wisdom

Saya pribadi sungguh sangat prihatin melihat perkembangan sekarang mengenai rasa dan paham kebangsaan.

Padahal dulu di era 1980-an, di bangku SD, hampir semua murid harus hafal 36 butir Pancasila dan setiap malam disuguhkan kebanggaan pada Garuda Pancasila lewat layar kaca.

Plus, era sekarang Islam dituduh sebagai Anti Pancasila, apa iya?

Tulisan ini mudah mudah an sebagai penyegar kita bersama dan mengembalikan marwah Pancasila di hati sanubari tunas tunas Bangsa sekarang dan masa depan.

Tulisan ini dibagi beberapa tahap yaitu :
(1) Latar Belakang Pancasila
(2) Kesaktian Pancasila,
Liberalisme, Pluralisme dan Imperialisme serta Komunisme adalah musuh terselubung dan nyata terhadap Pancasila.
(3) Tafsir *Rasio Pancasila* dan analisis bentuk energi jati dirinya
(4) Menggali kekuatan energi jati diri *Inner Pancasila*

(1) LATAR BELAKANG PANCASILA

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia..

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa,
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab,
(3) Persatuan Indonesia,
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,

dan semuanya ini tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

*Pancasila mempunyai kedudukan sebagai ideologi dan dasar negara sekaligus sebagai pandangan hidup seluruh Rakyat Indonesia.* Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang memiliki nilai-nilai yang luhur yang patut untuk diamalkan oleh seluruh bangsa Indonesia.

Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila memiliki nilai-nilai antara lain:
*Nilai ideologi,* yaitu pandangan dan sikap hidup.
*Nilai politik,* yaitu nilai kenegaraan.
*Nilai ekonomi,* yaitu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas-asas kekeluargaan.*Nilai sosial* kerukunan akan keberagaman
*Nilai kebudayaan*, pengayaan akan keberagaman

*Sejarah butir butir pengamalan Pancasila*

Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (disingkat P4) atau *Eka Prasetya Pancakarsa* adalah sebuah panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara semasa Orde Baru.

Panduan P4 dibentuk dengan Ketetapan MPR no. II/MPR/1978. Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.

Saat ini produk hukum ini tidak berlaku lagi karena Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 telah dicabut dengan Ketetapan MPR no XVIII/MPR/1998 dan termasuk dalam kelompok Ketetapan MPR yang sudah bersifat final atau selesai dilaksanakan menurut Ketetapan MPR no. I/MPR/2003

Dalam perjalanannya 36 butir pancasila dikembangkan lagi menjadi 45 butir oleh BP7. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia.

(2) KESAKTIAN PANCASILA.
Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme serta Komunisme adalah musuh terselubung dan nyata terhadap Pancasila.

Pemikiran liberal, walaupun berlabel “Islam” tetap saja intinya adalah pemikiran yang mengagungkan kebebasan model “Barat” yang anti-agama, pro-kapitalisme dan pasar bebas.

Oleh sebab itu, pemikiran ini bukan hanya mengancam agama, tapi juga mengancam kedaulatan negara. Ancaman pemikiran “liberal” ini terhadap agama telah ditangani oleh MUI dengan menerbitkan Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Nomor : 7/Munas VII/MUI/11/2005
Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama dalam Musyawarah Nasional MUI VII pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005

Terbitnya fatwa ini cukup menentramkan umat akan bahaya pemikiran *atheis anti-Tuhan dan anti-agama ini terhadap akidah dan keyakinan kaum Muslim.*

Hanya saja, bahaya pemikiran ini terhadap kedaulatan negara dan cita-cita luhur berdirinya negara ini tidak banyak yang menyadari.

Padahal, di depan mata gerakan ini telah berani menohok langsung untuk meruntuhkan dasar negara ini, yaitu Pancasila.

Mereka tidak menginginkan Pancasila yang pro-agama dan ingin menggantinya dengan Pancasila yang atheis, anti-agama. Selama ini yang sering dicurigai yang anti-Pancasila adalah umat Islam.

Oleh sebab itu, tuduhan “anti-Pancasila” selama ini selalu dialamatkan pada gerakan-gerakan Islam.

Sebagai contoh, seorang aktivis liberal Saidiman Ahmad dengan sengaja membolak-balikkan sila-sila Pancasila. Dalam twit-nya tanggal 1 Oktober 2012, dia menyarankan agar sila kesatu dan kedua diubah saja menjadi “Ketuhanan yang Adil dan Beradab”, dan “Kemanusiaan yang Maha Esa.”

Lain lagi pentolan JIL Luthfi Assyaukani. Dia menyarankan untuk mengubah total lima sila Pancasila. Ia menyarankan agar lima-lima sila Pancasila yang baru berbunyi: “Kebebasan beragama dan berkeyakinan”;
“Kemanusiaan yang menghargai perbedaan”;
“Persatuan yang berkebudayaan”;
“Demokrasi yang menjunjung hak individu”;
dan “Kebebasan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Dia tulis semua sila baru itu dalam akun twitter-nya “asysyaukani” beberapa waktu yang lalu.

Apakah cuitan para aktivis liberal di twitter ini main-main? Ternyata tidak. Gagasan itu rupanya adalah hasil diskusi mereka yang dilakukan beberapa kali di Utan Kayu, markas Jaringan Islam Liberal, dan di beberapa tempat lainnya.

Beberapa saksi yang pernah berdiskusi dengan Lutfi Asy-Syaukani juga mengaku bahwa dalam beberapa diskusi, aktivis ini memang sangat sering menyinggung keinginannya untuk mengubah sila-sila Pancasila itu.

Sikap seperti ini sebetulnya tidak mengherankan. Sebagaimana kita tahu, *Pancasila membatasi negara ini dengan nilai-nilai agama dengan adanya sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan menolak kapitalisme dengan sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.*

Sementara *pemikiran liberal sangat anti untuk menempatkan agama sebagai nilai dasar bagi sebuah negara.* *Mereka juga sangat tidak senang bila negara ini tidak merestui kapitalisme.* Hanya sayang, sampai saat ini tidak ada satu pun aparat yang menggelandang para aktivis liberal ini ke jeruji penjara seperti mereka menggelandang orang-orang yang belum jelas dosanya seperti Sriyono di Klaten.

Begitu penjelasan dari
Sani Insan Muhammadi, S.Pd., M.Pd.
, Jum at 18 Nopember 2016, lebih lengkapnya anda bisa ikuti di
http://risalahjumah-persis.blogspot.co.id/…/pemikiran-liber…

(3) *TAFSIR RASIO PANCASILA Dan ANALISIS BENTUK ENERGI JATI DIRINYA*

Sebetulnya dalam memahami dan menjalankan Pancasila itu ada 2 yaitu *Rasio Pancasila* dan *Inner Pancasila*

*Rasio Pancasila*
Adalah pemahaman berdasatkan rasio konteks berserta tafsir konteks tersebut.

*Sejatinya Pancasila berfungsi sebagai titik temu dan pemersatu bangsa.*

Dalam sebuah makalah berjudul “Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur’an?”,

M Natsir menulis, “Perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah antara para pemimpin-pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945.”

Saya percaya bahwa di dalam keadaan yang demikian, para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besarnya adalah beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka, nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam”.

Natsir juga menegaskan bahwa Pancasila adalah pernyataan dari niat dan cita-cita kebajikan yang harus diusahakan terlaksana di dalam negara dan bangsa Indonesia.

Natsir menyesalkan adanya dikotomisasi antara Al-Quran dan Pancasila; seolah-olah antara tujuan Islam dan Pancasila itu terdapat pertentangan dan pertikaian yang sudah nyata tak “kenal damai” dan tidak dapat disesuaikan.

Kembali ke persoalan tafsir Pancasila, jika kita meneliti tiap butir sila Pancasila, maka kata-kata yang digunakan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari pandangan hidup masyarakat Indonesia yang beragama Islam.

Kata-kata seperti adil, beradab, musyawarah, hikmah tidak dapat ditafsirkan kecuali dengan cara dikembalikan kepada sumber dari mana kata-kata itu berasal. Singkatnya, *Pancasila tidak dapat ditafsirkan kecuali dengan pandangan hidup Islam.*

*Bagaimana kualitas Pancasila itu sendiri yang telah dirumuskan oleh founding fathers kita?, Apakah Pancasila perlu diganti?*, (seperti yang sering dihembuskan oleh Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme),

Untuk memahami hal ini ndak ada jalan kita cek *bentuk energi jati diri masing masing sila Rasio Pancasila* tersebut.

Sila ke 1, *Ketuhanan Yang Maha Esa*

Bentuk energi jati dirinya :
Pusaran tornado besar bening berputar cepat dari atas menyedot sebagian manusia yang ada dibawah ke alam bening langitnya biru bening.

Sila ke 2, *Kemanusiaan yang adil dan beradab,*

Bentuk energi jati dirinya :
Jalan luas terang sebelahnya ada timbangan.

Sila ke 3, *Persatuan Indonesia*,

Bentuk energi jati dirinya :
Bola bening berputar dikelilingi lingkaran bening berlapis lapis tak berujung, lingkaran ini juga berputar cepat.

Sila ke 4, *Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan*,

Bentuk energi jati dirinya :
12 Pusaran tornado bening berputar membentuk lingkaran bersambung menyatu dan berputar ke kanan.

Sila ke 5, *Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia*,

Bentuk energi jati dirinya :
Bola bening berputar cepat memecah kemudian menjadi pusaran tornado kecil kecil bening ke segala arah

Dan
*Bentuk energi jati diri *Rasio Pancasila* secara keseluruhan :*

Pusaran tornado besar sekali bening berputar dikelilingi jalan luas bening dengan banyak ruas jalan.
Dan dari pusaran tornado bening tersebut mengeluarkan poros tornado bening dan bola bening ke segala arah.

*Kesimpulan kualitas Rasio Pancasila*
Dari uraian diatas terlihat bahwa berwarna bening (beningnya warna bening Al Haq, jika bening lain energi lain, agak pudar dan redup) semua sehingga nyata energinya di jalur Al Haq.

Maka
Yang dirancang dan diwariskan oleh founding fathers kita sudah benar dan sudah di halur Al Haq, sehingga tidak perlu diganti.

(4) *MENGGALI KEKUATAN ENERGI JATI DIRI INNER PANCASILA*

…..lanjut ke tulisan ke 2

✅*FIGHT FOR – AWAKENING*✅
Human Inner Origin, Promise Keeping & Integrity, Grandness Prophetic Leadership, Humanity, Unconditional Love Awareness, Justice – Peace -Prosperity, Nature Awareness.

*Let’s Unleash Origin Al Haq Leader In You*
Living on Al Haq Values in Grand Divine Real World application

Salam Allahu Robbi
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Imperium Garda Ring Waqulja Al Haq Yaa Haq

Gen Ores (Generation Origin Resonance)
Generasi Perduli kemurnian ahlak berbasiskan energi Al Haq Kepemimpinan Diri Sejati