Cinta Asmara – Ilusi Cinta – Cinta Bersyarat

11 Mar 2014

Kedahsyatan hari ini “CINTA ASMARA – ILUSI CINTA – CINTA BERSYARAT”
Quotes of the day “Kemurnian suatu cinta asmara seharusnya membawa mahligai suatu pernikahan ke kehidupan yang lebih mengagungkan bagi setiap anggota di keluarga tersebut ! B-SAMA

Tulisan ini saya posting sebagai bentuk keprihatinan saya dalam melihat kenyataan hidup bahwa banyak keluarga dalam menterjemahkan arti kata cinta terhadap pasangannya dan anggota keluarga itu sendiri.
Banyak sekali saya sudah melakukan terapi keluarga, responden rata – rata berpijak di paradigma yang sama sehingga menimbulkan masalah keluarga tersebut.

AGUNGNYA CINTA ASMARA
Cinta kasih asmara itu adalah keagungan tiada tara.
Alam ini tercipta dari keluasan cinta Tuhan Allah Sang Maha Dahsyat kepada bangsa manusia.
Cinta kasih asmara lintas batas agama, bahkan yang tidak mempunyai agamapun mengenal arti kata cinta !
Kita ada karena Cinta.
Maka Cinta seharusnya mengagungkan para pelakunya dan bukannya saling menyakiti !
Cinta asmara yang pas itu membuat kualitas hidup pelakunya lebih bertumbuh, makmur, harmonis, sejuk, penuh romantis dan saling menguatkan.

ILUSI CINTA
Namun apa yang ada di lapangan kehidupan nyata ?
Sangat sedikit sekali yang menemukan kondisi diatas !
Sepertinya kondisi diatas adalah kondisi ideal yang patut dipandang dan dibaca saja, namun susah dilaksanakan !
Kenapa ?

Dari pengalaman saya terapi sekian banyak responden terhadap masalah keluarganya dan juga bagi yang belum berkeluarga masih dalam tahap tunangan atau apalah itu, rata – rata sebagai berikut :
(1) Mereka mencintai harapan yang akan diperoleh dari orang yang dicintainya bukan orangnya.
Contoh yang memakai patokan yang penting sama keyakinan atau agamanya.
Akan kecewa jika ternyata pasangannya meskipun ibadah kenceng, namun marahnya juga kenceng, juteknya kenceng, egonya kenceng dan lain sebagainya.
Jadi sesungguhnya yang dicintai bukan orangnya, namun harapan terhadap orang tersebut gimana idealnya…inilah ilusi tersebut !

Contoh lain, mereka mencintai latar belakang finansial / derajat dll, orang tersebut.
Ketika berjalan dengan waktu, usahanya bangkrut, karirnya hancur dan lain sebagainya maka cintanya goyah.
Karena yang diharapkan tidak terwujud…itulah ilusi cinta.

(2) Mereka yang memaksakan diri terhadap pasangannya.
Ketika kita memilih seseorang sebagai pasangan hidup, banyak faktor yang menjadikan pilihan tersebut terwujud sebagai pernikahan.
Spektrumnya bisa dari masa sekarang, bisa juga karena sebab azaz keadilan Tuhan akibat evolusi kehidupan kita.
Atau juga kombinasi keduanya.

Jika dalam spektrum kehidupan sekarang, tergantung kualitas kita pada saat memilih pasangan tersebut.
Ketika menikah khan perjalanan waktu pasangan kualitasnya ada yang bertumbuh ada yang tidak.
Jika bertumbuh bersama itu bagus, masalahnya kalau bertumbuhnya itu berbeda dan perbedaaannya jauh….ya sudah akhirnya banyak ndak klik, ribut melulu, garing, mati rasa dan lain sebagainya.

Jika dalam spektrum evolusi kehidupan bisa saja kita harus menikah dengan seseorang dikarenakan harus membayar sikap yang tidak tepat di masa lalu. Sehingga azaz keadilan Tuhan berjalan, dan sistem di kehidupan sekarang dibuat sedemikian rupa agar kita menjadi satu dengan pasangan tersebut untuk menyelesaikan segala bentuk hutang masa lalu.
Yang repot itu jika jangka waktu pelunasan ndak terlampau lama…misal settingnya cukup 5 tahun pernikahan saja urusan bayar membayar sudah beres, selanjutnya ya harus dengan orang lain…waduh…he..7x..pusing ya.

Skenario ini khan kita ndak tahu, justru itulah masuk dalam kuadran ujian dari Tuhan Allah Sang Mha Dahsyat bagaimana kita memaknai kenyataan dan meresponnya.
Karena dari pengalaman sekian banyak responden terapi keluarga yang saya lakukan, bagi mereka – mereka yang sudah selesai urusan bayar membayar tersebut (ini juga terjadi bagi mereka yang memilih pasangannya dengan dasar yang tidak tepat)..biasanya indikasinya rata – rata sama (bisa salah satu, bisa gabungan)….mereka sama pasangannya seperti teman, hampa, kering, garing, ndak nafsu lagi, jauh dari romantis, dikit – dikit ribut, mereka mencari kenyamanan diluar, bahkan di satu kamarpun ndak ngapa ngapain.
Campur dengan pasangan ya karena sistem biologis saja, melakukan seperti makan dan minum…ndak ada cinta.
Berbuahkan anak ya karena sistem biologis, ndak ada unsur cinta sama sekali.

Atau bisa saja nampak keluarga ideal namun kropos didalam.
Diluar kelihatan bagus, namun yang sesungguhnya jauh dari itu.
Bisa bayangkan bagaimana vibrasi yang melingkari keluarga seperti ini ?

CINTA BERSYARAT
Namun banyak dari kita yang melakukan dan meneruskan keterpaksaan seperti itu di kehidupan nyata.
Banyak alasannya, seperti :
* lha kalau saya pisah khan dilarang agama ?, …walah kalau saling menzolimi terus apakah juga diijinkan agama ?
* Lha kalau pisah saya sudah terlanjur ndak kerja, umur sudah kepala 4, anak banyak…nanti saya gimana ?
* Lha kalau pisah lalu apa kata tetangga, handai taulan dsbnya.
* Lha kalau saya pisah, saya meninggalkan semua kenyamanan ini dong…sudah dech ndak apa meskipun garing, ndak bahagia..yang penting tercukupi ndak kurang suatu apa !
* Ada juga yang menyampaikan begini…wach pak saya sudah letih..biarkan saja dech..ini pilihan saya…saya serahkan pada Tuhan saja.
He..7x apa bedanya kalau kita salah jalan, lalu waduh saya letih ya sudah saya serahkan pada Tuhan saja !, lantas kendaraan yang kita bawa bisa muter sendiri gitu ?, bisa mencari jalan sendiri ?…tanpa kita berupaya ?…khan sudah diserahan pada Tuhan ?…he..7x capek dech..

Coba baca lagi dech contoh diatas..renungkan ..bukankah tercermin bahwa hal tersebut secara tidak langsung mengkerdilkan kekuasan Tuhan Allah ?…prihatin sekali saya.
Kedahsyatan Tuhan Allah tiada batas..sepanjang kita pakai pikiran …maka pertolongannnya ndak bakal ada !

UPAYA MEMULYAKAN
Hidup itu harus berupaya, berusaha, berjuang !, karena berjuang dan berupaya itu merupakan bagian dari syarat penciptaan bangsa manusia.
Namun berupaya dan berjuang harus tahu dulu…layak di perjuangkan atau tidak ?….atau memang ada di lahan pertempuran yang benar…jika berjuang di pertempuran yang salah khan repot !, sudah babak belur ndak dapet apa – apa…he..7x

Begitu pula dengan pasangan kita.
Jika memang sudah ndak nyambung, sudah ndak klik..sudah dicoba ..sudah diusahakan berkali kali ndak nyambung…ya berarti indikasi rasional memang harus bubaran.
Gini ya memulyakan kehidupan keluarga bukan berarti memaksakan diri untuk yang sudah jelas – jelas tidak pas !
Berpisah itu juga memulyakan masing – masing pihak lho…meskipun ini merupakan langkah berat yang harus diambil !
Karena kesehatan keharmonisan keluarga itu berefek pada anak, coba kita lihat pertumbuhan seorang anak dari keluarga yang tidak harmonis dengan keluarga yang harmonis..itu sangat berbeda jauh kualitas anak tersebut.

Jadi masing – masing pihak harus rendah hati untuk melihat kenyataan dan berjiwa besar serta berani mengatakan jujur bahwa “ok..pernikahan saya memang tidak harmonis, dari sekian kali usaha tetap tidak berjalan dengan baik, maka ini merupakan tanda dari Tuhan agar saling memulyakan diri untuk berpisah”.
Maka perpisahan itu bukan berarti pernikahan gagal, kalau saya lebih memaknainya sebagai usaha untuk saling memulyakan, dan ketemu dengan pasangan baru yang lebih harmonis.

RESONANSI (GETARAN DAN GELOMBANG) PASANGAN
Sejatinya pasangan seseorang itu ada kecocokannya (darjah psangan).
Kecocokannya dilihat dari resonansi DNAnya.
Ukurannya adalah dari 1 s/d 12.
12 tertinggi, 1 terendah.
Idealnya itu minimal 8.
Potensi yang diperoleh adalah :
(1) Kecocokan visi misi
(2) Keromantisan
(3) Kedalaman sex
(4) Kerendahan hati dan keharmonisan
(5) Kekuatan saling mendukung.

Kebanyakan dari responden terapi keluarga yang saya lakukan…rata – rata darjahnya dibawah 8. Ada yang diatas 8, namun karena egonya masing – masing pihak atau gangguan dari luar.
Yang sulit itu jika dibawah 7, karena sangat sulit diperbaiki.

Contoh pasangan ranking tinggi :
Bapak Habibie dengan Ibu Ainu..darjahnya 12
Bapak SBY dengan Ibu Ani darjahnya 11
Ratu inggris yang sekarang dengan Pangeran Philip darjahnya 12
Bapak Harto dengan Ibu Tien darjahnya 12

Untuk lebih mudah memahami adalah begini.
Bayangkan antara tutup botol dengan botolnya.
Apa yang terjadi jika tutup botol aslinya ilang…dipakai tutup botol yang tidak seukuran…kalau kebesaran khan kedodoran..jika kekecilan susah dipasang bukan ?…nach itu lah cara kerja vibrasi psangan hidup.
Kalau mau memaksakan diri….bisanya yang tutup kebesaran diganjal ….yangkekecilan yang dipaksa sedemikian rupa..sehinga metat metot…mirang miring !
Apa kita mau hidup seperti itu ?

TANGGUNG JAWAB
Hidup itu bertanggung jawab.
Namun menterjemahkan tanggung jawab ini jangan salah sasaran.
Jika kita sudah tidak cocok, kita harus bertanggung jawab pada pasangan bukan?..maka muliakanlah dia dengan kehidupan yang lebih baik, iklashkan dengan orang lain.
Dan kita juga harus memulyakan anak anak kita bukan ?
Apa indah?, kehidupan keluarga yang sering cekcok..sering garing itu dirasakan sama anak ?, kita wajib memulyakan anak – anak kita untuk mendapatkan orang tua yang mengindahkan kehidupannya.

Dan kita juga harus bertanggung jawab pada Tuhan Allah sang Maha dahsyat !
Coba saya tanya..jika kita dipanggil Tuhan dengan kondisi masih adanya endapan emosi negatif, seperti amarah terpendam, kekecewaaan, kegetiran, kehampaan…dsbnya…apa iya kita bisa masuk ke alam positif yang hanya mau menerima manusia yang bervibrasi positif murni !
Emang bisa gitu, malaikat penjaga alam positif…”ech bang malaikat..tolong dong saya boleh masuk..khan emsoi saya cuman kecil..cincai lah yao !”…ha..7x bahkan sampai sudah bebas dari tubuh fisik…kita ini masih saja menawar !
Lha khan saya sudah bertobat pak?…weeee..ini khan hablu minanas !, kita bertobatnya kepada Tuhan..lha salah sasaran atuch..khan urusannya dengan sesama…ini hablu minanas..harus dibereskan dengan ybs ..!

DEMI MASA SESUNGGUHNYA MANUSIA ITU MERUGI
Waktu itu berjalan dengan cepatnya my friend, bijaklah dengan waktu.
Segerakan jika benang merah ketidak harmonisan keluarga dapat ditarik garis lurusnya…maka kenapa menunda !
Siapa diri ini sehingga tidak menyegerakan penyelesaian yang tidak mengagungkan kehidupan kita !, bukankah hal tersebut berefek pada kualitas diri ?
Jika kita mengerjakan proyek khan ada dead linenya ?
Kenapa dengan hidup yang tidak mengagungkan kita justru menunda nunda sampai bisa lebih dari 15 tahun hidup dalam putaran vibrasi seperti itu ?
Pembuktian apa yang hendak diperjuangkan ?, dasar pembenar apa yang hendak diangkat kepermukaan ?
Bukankah bukti dan tanda – tanda dari Tuhan Allah Sang Maha Dahsyat sangat jelas ?

Saudaraku yang baik hatinya..bijaklah dalam mengahadapi hidup, tegaslah pada pusaran yang tidak mengagungkan hidup kita !
Berserah diri harus yang tepat !, jangan sebagai dasar pembenar menutupi diri yang sebenarnya takut, lemah dsbnya namun ditutup dengn kemasan yang indah yaitu kalimat “Saya serahkan pada Tuhan saja !”, lha tapi ndak punya upaya ?
Coba mobil kita mogok..ya sudah serahakan pada Tuhan !, bayangkan kapan nyalanya mobil tersebut ?

TIPS
(1) Bagi yang sedang berada di kondisi yang tidak mengagungkan diri kehidupan berkeluarganya.
Mohonlah pada Tuhan agar dikembalikan ke garis takdir positif diri dan mohon penyelesaian terbaik menurut Tuhan (bukan menurut kita !) agar keluar dari masalah ini !
Dan kita harus iklash dan berserah diri sesuai dengan ketetapan Ilahi.
Maka lihatlah apa yang terjadi !

(2) Bagi yang belum berkeluarga bermohonlah diketemukan jodoh sesuai dengan garis takdir positif diri, maka kita akan diketemukan dengan jodoh yang sebenarnya !

Jadi jangan pakai pikiran..jangan pakai logika..percayakan sepenuhnya pada Tuhan…sikap hati yang benar…iklashkan dan membuka diri untuk di tuntun sama BELIAU.
Jangan protes ya kalau ketemu sama lebih tua, atau kurang rupawan….sebab dibalik itu adanya kebijakan, keluhuran dan hoki yang tinggi, trust me !
Namun jangan terus melegalisasi banyak fenomena brondong dengan ibu2 kaya..hanya karena hartanya…

Mudah – mudah an tulisan ini menambah keiamanan dan ketakwaan kita bersama !

SALAM KASIH DAN KEDAHSYATAN HIDUP
To Love To Care To Give
Navigator Eksekutif
Lembaga Indikator Resonansi Autentik Spiritual