Discover within you

01 Jul 2012

[wowslider id=”1″]Kemulyaan hari ini “Discovery within you”
Quotes of the day :
“And of all illumination which human reason can give, none is comparable to the discovery of what we are, our nature, our obligations, what happiness we are capable of, and what are the means of attaining it.
Adam Weishaupt

Teringat ketika dulu semasa kecil sampai SMA, saya sering melakukan perjalanan panjang liburan bersama keluarga dari Jakarta ke Bali, tempat kakek saya melalui jalan darat. Wach nikmat sekali perjalanan tersebut, karena kami jika melalui kota kecil atau tempat indah, kita langsung menginap atau stay sekitar 4 s/d 6 jam sambil makan dan istirahat.

Banyak juga untuk menuju lokasi tersebut harus melalui jalan yang kurang bagus, dan kami harus memutar atau langsung menerobosnya dengan hati – hati, ketika sampai ditujuan terasa sekali kenikmatan kemenangan luar biasa sudah berhasil menempuhnya.

Dari ilustrasi diatas tercermin bahwa sebetulnya kita secara naluri atau bisa juga disebut seacara psikologis selalu ingin mengunjungi suatu tempat yang menyejukkan hati, tempat yang membuat kita nyaman dan terhibur, tempat yang membuat hati damai dan nyaman. Apakah mungkin di perjalanan kita justru mendatangi tempat yang membuat kita gerah?, kita tidak nyaman?, kita stress ?, tidak bukan ?

Semua yang diuraikan diatas adalah perjalanan hidup rasional fisik yang merupakan bagian dari kebuuthan pribadi manusia dalam melangsungkan kehidupannya, pertanyaannya adalah bagaimana dengan perjalanan spiritual pribadi? dan perjalanan resonansi jati diri ?
Bersamaan dengan banyaknya pertanyaan ke saya mengenai bedanya spiritual dengan resonansi jati diri, maka dalam kesempatan ini akan saya urai secara singkat namun mudah – mudahan dapat dimengerti dengan baik.

Namun sebelum kita membahas dua perjalan diatas (perjalanan spiritual dan perjalanan resonansi jati diri), mari kita samakan dulu persepsi antara Agama, Spiritual dan Resonansi jati diri.
Agama / Religion secara umum adalah merupakan suatu sistem ibadah atau tata laku yang terorganisasi atau teratur. Agama mempunyai keyakinan sentral, ritual terhadap Tuhannya, dan praktik tentang kehidupanyang biasanya berhubungan dengan kematian, perkawinan dan keselamatan/penyelamatan (salvation).

Agama mempunyai aturan-aturan tertentu yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari yang memberikan kepuasan bagi yang menjalankannya. Perkembangan keagamaan individu merujuk pada penerimaan keyakinan, nilai, aturan, dan ritual tertentu. Masing – masing agama mempunyai spesifikasi sendiri – sendiri yang berbeda di masalah ke Tuhanan, masalah ritual dan masalah ajaran moral. Masing – masing agama berikut pemeluknya merasa yakin bahwa agamanyalah jalan keselamatan, maka yang tidak di agama tertentu akan celaka, terlepas dari keluhuran budi seseorang atau kebaikan hidup seseorang, pokoknya jika tidak masuk agama tertentu yang dipeluknya maka akan celaka. Sepanjang peradaban manusia agama seseorang biasanya sudah ditentukan oleh orang tuanya, jarang sekali yang diberi kemerdekaan untuk memilih, malah kecendrungan semuanya sejak lahir sudah ditetapkan beragama sesuai dengan agama orang tuanya. Malah banyak terjadi ketika si anak sudah dewasa dan memilih agama lain yang lebih pas untuk dirinya, malah dikucilkan atau dibuang, karena di cap sesat atau memalukan keluarga.

Bagaimana dengan Spiritual / Spirituality ?
Spiritualitas beda dengan agama. Jika agama perlu dipelajari, maka spiritualitas tidak dipelajari dan secara alamiah sudah ada didalam hati nurani setiap manusia. Tinggal kadar ketebalan sisi gelap yang menutupi kualitas spiritualitas seseorang yang membuat satu dan sama lain mempunyai tingkat kedalaman spiritualitas berbeda.
Spiritualitas adalah rasa keyakinan dalam hubungannya denganSang Pencipta. Menurut Burkhardt (1993), spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut:
1. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan.
2. Menemukan arti dan tujuan hidup.
3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.

Kualitas Dimensi spiritual berusaha untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia. (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson 1995)

Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban sebagai manusia, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Sang Pencipta dan sesama. Dapat disimpulkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf.

Kecerdasan Spiritual vs sikap Agama
Banyak dari kita menterjemahkan kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin ritual agamanya, rajin ibadah, rajin ke rumah ibadah, pokoknya segala sesuatu yang berkaitan dengan agamanya. Jika kecerdasan spiritual dipahami seperti ini maka hal tersebut sangat keliru sekali.
Kecerdasan spiritual lebih menitik beratkan akan kualitas perilaku, kualitas hati dan kualitas cara memaknai hidup. Intinya adalah kualitas soft skill kita.
Spiritualitas ada sebelum adanya agama. Spiritualitas itu sama tuanya dengan umur peradaban manusia bahkan alam ciptaan. Karena roh alam juga mempunyai spiritualitas. Spiritualitas tidak berdiri di satu agama, spiritualitas berdiri di semua agama.

Bagaimana dengan Resonansi jati diri ?
Jika spiritualitas timbul dari rasa atau intuisi, maka resonansi jati diri timbul dari fondasi rasa atau intuisi tersebut yaitu getaran dan gelombang nurani. Bahasa mudahnya resonansi jati diri adalah spiritualitas, namun spiritualitas bukan resonansi jati diri, kenapa ? Karena resonansi jati diri meliputi 2 aspek pokok yaitu resonansi dan keaslian jati diri manusia, kedua hal ini berlapis – lapis dan ber tingkat- tingkat. Sedangkan di spiritualitas tidak mengenal dan tidak mempunyai alat ukur untuk lapisan dan tingkatan spiritualitas.

Resonansi jati diri selain sama dengan aspek spiritualitas , namun lebih di titik beratkan pada,
(1) Berpikir kedalaman dan berpikir bebas
(2) Memulyakan diri, sesama, seluruh mahluk dan alam
(3) Tampil dengan ke otentikan jati diri yang sebenarnya
(4) Selalu memperbaharui diri dengan adanya peningkatan aspek – aspek jati diri yaitu (a) Kualitas alam jati diri (2) Lapisan jati diri (3) Martabat jati diri (4) ke Agungan jati diri
(5) Selalu menyesuaikan kesadaran, pola pikir serta cara pandang kehidupan sesuai dengan lapisan – lapisan yang telah dicapainya.
(6) Selalu membuka diri untuk menerima segala kemungkinan lain yang bertumbuh seiring dengan peningkatan aspek – aspek jati dirinya.
(7) Selalu memastikan diri bebas dari segala bentuk resonansi negatif baik yang ada didalam diri maupun diluar diri.
Kualitas lapisan – lapisan resonansi jati diri tiada batas dan tiada ujungnya, kewajiban kita menempuhnya setinggi – tingginya sesuai dengan usaha-usaha kita dan dari Ijin Nya.

Kecerdasan Resonansi Jati diri VS Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan resonansi jati diri mempunyai tools alamiah sebagai pengarah / pemandu dan sebagai early warning system. Sedangkan spiritual melalui pemahaman bertahap dan tidak mempunyai pemahaman yang berlapis serta ber tingkat – tingkat.
Kecerdasan resonansi jati diri lebih menitik beratkan pada bagaimana kita mempunyai konstribusi langsung kepada sesama, seluruh mahluk dan alam. Kecerdasan resonansi jati diri adalah salah satu hukum universal, jadi sudah tercipta setua dengan terbentuknya alam jagad raya ini.

Kecerdasan resonansi jati diri juga lebih menitik beratkan pada bagaimana menang terhadap diri sendiri, karena sesungguhnya pertempuran terbesar ada didalam diri bukan mengalahkan orang lain. Kecerdasan resonansi jati diri juga berfondasikan pada rasa syukur, iklash dan berserah diri pada Sang Maha Benar. Kecerdasan resonansi jati diri mempunyai aturan yang sangat ketat, harus benar – benar bebas dari emosi – emosi negatif dan penyakit hati.

Begitulah….jadi sebetulnya resonansi jati diri adalah sebuah perjalanan, karena ini merupakan Never Ending process. Pribadi – pribadi Gen Ores / Generation Origin Resonance lah yang telah bersikap, cara pandang dan cara hidup berdasarkan kecerdasan resonansi jati diri.
So…..sudahkah kita memilih perjalanan hidup diri pribadi seperti apakah ?, bukankah hidup itu adalah memilih dan pilihan, namun biasanya kita kurang siap dalam menghadapi konsekwensi logis yang akan terjadi akibat dari pilihan – pilihan kita….semangat berbagi untuk kemulyaan bersama…Transpersonal resonance navigator