AFTER RAMADHAN WHAT’S NEXT ?, EMBRACE THE FUTURE

Power of Life-Embrace The Future

THE POWER OF LIFE, AFTER RAMADHAN, WHAT’S NEXT?, EMBRACE THE FUTURE
Kekuatan untuk hidup,
Setelah Ramadhan, apa berikutnya?,
Memeluk masa depan.
Tulisan ke 4 dari 4 tulisan

A) MENAKAR KEDALAMAN KEILAHIAN DALAM DIRI

“Forgive the Past, Accept the Present, Back to the original check point and growing up plus Embarace the future” B-AMA

“Semangat Ramadhan adalah fondasi.
Fondasi sebagai daya ungkit, daya dobrak, daya tembus perjuangan berkelanjutan kehidupan nyata.
Maka bersyukurlah bagi sahabat yang benar benar murni hakiki berjuang selama Ramadhan” B-AMA

MENAKAR KEDALAMAN KEILAHIAN DALAM DIRI
Laa illa ha illalah hu Allah hu Akbar.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha besar.

Dari Azbabun Nuzul (Sejarah turunnya suatu Surat) bahwa pada saat itu di jasirah Arab banyak Agama dan keyakinan yang mempunyai Tuhan ber beda beda.
Oleh karenanya para sahabat menanyakan ke Kanjeng Nabi, sebetulnya Tuhan mana yang dimaksud di Islam.
Maka turunlah surat Al Iklash.

Bismillahir rahmanir rahim
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha penyayang)
Qul huwallahu ahad
“Katakanlah, Dialah Allah, Yqng Maha Esa”
Alllahu Shomad
“Allah tempat meminta segala sesuatu”
Lam yalid walam yulad
“Allah, tidak beranak dan tidak diperanakkan”
wa lam yakul lahu kufuwan ahad.
” Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia”

Surat diatas adalah surat Al iklash Qs : 112.
Yaitu surat yang bermakna Memurnikan Keesaan Allah – The Purity of Faith.

Makna Esa adalah tunggal, satu, berarti Tuhan itu satu, ndak banyak dan yang satu itu namanya Allah.
Juga Allah bukan patung yg disembah.
Allah juga bukan matahari, pohon, dsbnya.
Allah tidak berbentuk tulisan Allah.
Allah juga bukan Ka’bah.
Allah tidak berwujud dan tidak ada satupun yang bisa menyerupainya.

Allah bukan yang menulis 10 perintah Allah di jaman nabi Musa di peristiwa bukit Tursina, itu hanya aparat Ilahi golongan Nurzatullah pangkat 8000 yang diperintahkan untuk menuliskan perintah tersebut.
Setingkat aparat Ilahi dikelas itu saja, nabi Musa sudah tidak bisa melihat, dan bukit Tursina hancur, apalagi Allah sebenarnya.

Setiap Nabi dan Rasul yang benar, selalu membawa ajaran ke Ilahian yang berseri dan berkelanjutan satu sama lain sesuai dengan jamannya sambung menyambung, ndak ada yang bertabrakan atau terjadi perbedaan.

Setiap Nabi dan Rasul di beri tuntunan / obat yang sesuai dengan kondisi penyakit yang diderita masyarakatnya kala itu.
Namun bahan baku obat nya khan sama, sumbernya juga sama.

Yang menjadikan perbedaan adalah penyimpangan dari umatnya para nabi dan rasul tersebut dan dilakukan turun menurun secara berjamaah.
Juga jangan lupa, perjalanan suatu Agama pasti dicampuri politik oknum oknum dijamannya yang membuat penyimpangan dengan latar belakang yang beda beda.

Maka ajaran para Nabi dan Rasul itu satu jalan satu arah yang ditutup oleh Nabi Muhammad SAW, ndak ada lagi nabi setelahnya.
Semua Agama yang dibawa oleh Nabi / Rasul yang benar adalah Agama Samawi.
Dan Agama Samawi tidak berubah, semuanya satu jalan satu sama lain, saling melengkapi, serta semuanya tertuang dalam Al Qur an.

Al Qur an tidak berkembang, Al Qur an itu baku, namun mencakup semua peradaban manusia.
Yang berkembang adalah penggalian di kedalaman Al Qur an tersebut.
Begitu pula ayat ayat alam, tidak berkembang karena sudah ada sebelum adanya manusia.

Ayat ayat alam, bertumbuh sesuai dengan tingkat pertumbuhan jumlah dan problematika manusia namun esensinya sama, maka ayat ayat alam tidak berkembang namun bertumbuh, oleh karenanya ini adalah anugrah sebagai bentuk kasih sayang Tuhan Allah.
Tinggal penggalian manusia itu terhadap ayat ayat alam sampai di kedalaman berapa dan apakah di jalur ruh Ilahi atau tidak.

Allah adalah sumber dari segala sumber kemurnian hakiki Al Haq.
Allah adalah sumber dari segala sumber jalur Ilahi.
Esa juga bisa berarti meskipun satu namun berada dimana saja.
Itulah konsep Ke Tuhanan dalam Islam.
Itulah sasaran untuk kita kembali pulang bukan Tuhan yang lain.
Maka Tuhan tidak sama dengan Allah.
Dan profile Allah, sesuai dengan uraian diatas plus yang ada di Asma Ul Husna bukan profile yang lain.

Dan satu hal lagi yang perlu dikuruskan, Islam itu bukan Arab, namun lahir di Arab sebab pada saat itu di seluruh Bumi kehidupannya sangat parah ya di Arab, disebut jaman Jahiliyah, yaitu penyembahan berhala di mana mana, kejahatan yang di legalisasi dsbnya.

MANIFESTASI KEIMANAN DAN KETAKWAAN KEILAHIAN DALAM DIRI
Jika kita ditanya, apakah kita beriman dan bertakwa?, pasti jawabnya “Ya saya ber iman dan bertakwa !”
Nach apa buktinya?
“Ya saya tetap rajin ber ibadah dan tetap memeluk agama saya”.
Itu jawaban yang umum.

Keimanan bukan tampil berjenggot yang lebat
Keimanan bukan ada tanda di dahi
Keimanan bukan dari sebab yang kita pakai, seperti sorban sampai tujuh tingkat atau indahnya jilbab.
Keimanan bukan tampil ke Arab arab an.
Keimanan bukan hafal ayat ayat dan sangat fasih membacanya.
Keimanan bukan mengobarkan jihad dan melakukan kerusakan.

Apa sich keimanan dan ketakwaan itu?
Semangat Ramadhan adalah memurnikan seluruh lapisan diri, seluruh aspek diri dengan kekuatan Cahaya Ilahi yang sudah ada didalam diri ketika penciptaan manusia.

Oleh karenanya makna KEMENANGAN sebenarnya harusnya diuji setelah Ramadhan selesai tahun ini.
Bagaimana caranya?
Sangat sederhana, amatilah reaksi diri ini terhadap segala bentuk tekanan psikologis dan tekanan kehidupan di kehidupan nyata.

Apakah diri kita masih sama dengan yang sebelum Ramadhan?
Masihkah Anda emosian?, jutekan, ngomongnya tajam tajam?, susah memaafkan?, gejolak panas amarah masih saja menghuni dada?,
Masih sajakah kita menjadi pribadi yang kaku?, keras, kasar ?

Masih sajakah kita menjadi pribadi yang halus dipermukaan namun dalam hal hal tertentu kita bisa menjadi keras dan kasar serta ucapannya tajam?

Masih sajakah kita mempunyai ilmu ilmu yang berbasiskan klenik, benda benda keris dsbnya?, masih sajakah kita berteman dan mempunyai refrensi ilmu dari kekuatan kekuatan sejenis Jin Islam?, atau bangsa negatif jenis lainnya?

Masih sajakah kita melatih diri kita dengan energi energi alam atau energi dalam diri yang bahan bakunya belum tentu murni hakiki al haq.
Masih sajakah kita mengejar kegelimangan manfaat tanpa menyelidiki bahan bakunya?

Sejatinya manifestasi keimanan dan ketaqwaan kita adalah mengharmoniskan diri dengan frekuensi ke Ilahian dan bukan mencederainya.

Maka, sudahkah kita beriman dan bertakwa yang sebenar benarnya iman?, atau sekedar beriman dan bertakwa versi kita?

lanjut ke B) KEMURNIAN HAKIKI

Salam kasih dan keagungan hidup
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Initiating Action for Global Grandness Leadership