INFINITY UNIVERSE IN HUMAN CHEST

10 Aug 2015

# INFINITY UNIVERSE IN HUMAN CHEST #

Ilmu

Quotes of the day
“Ilmu itu ada dua macam, ilmu di dalam dada itulah yang bermanfaat dan ilmu sekedar di ujung lidah, maka itu akan menjadi saksi yang memberatkan manusia” Muhammad SAW The Prophet

CHANGE THE WORLD
Everybody wants to change the world but no body want to change.
Semua orang ingin merubah dunia, namun tidak ada yang mau merubah diri sendiri.

Kenapakah hal ini terjadi ?
Ya sebab rata rata manusia merasa dirinya ndak ada masalah, orang lain yang bermasalah, situasilah yang bermasalah, dunialah yang bermasalah.
Jadi layaklah diri ini untuk merubah dunia, karena bukankah merubah dunia itu baik.

Betul di satu sisi, namun bukankah para nabi  / rasul, wali dan para master kehidupan sebelum bergerak keluar diri selalu membereskan diri dulu.
Sehingga mereka bisa berbicara dan bertindak dengan kenyamanan integritas serta bertanggung jawab pada diri sendiri dengan memberi suri tauladan baik melalui sikap dan perilaku maupun pancaran energi yang bening Al Haq.

Oleh karenanya makna “ilmu sekedar di ujung lidah, maka akan menjadi saksi yang memberatkan manusia”, adalah seharusnya apa yang diucap / ditulis harusnya dibuktikan dulu dan berjalan stabil terhadap diri.
Inilah integritas dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Jika maksudnya adalah suatu pengingat maka bentuknya adalah ajakan, dengan memakai kata “marilah kita berjuang bersama…..” bukan memakai kata Anda, seolah olah sudah stabil melampaui semuanya itu.
Namun pada kenyatannya di kehidupan sehari hari tidak stop sebagai pengingat saja bukan?

Sebab sungguh hidup itu mempunyai ujian yang berlapis, bisa saja di topik kasus yang sama dalam waktu tertentu kita sudah melampuinya dengan baik namun di waktu yang lain belum tentu.

Maka semuanya harus dipertanggung jawabkan kelak, sudah siapkah kita?

FREKUENSI ILMU DAN JIWA MANUSIA
Ilmu adalah non materi, meskipun bisa saja tertulis berbentuk materi, namun tetap ekstrak suatu ilmu adalah non materi.

Ilmu terekam di otak dan terserap di dada (hati manusia).
Dikarenakan ilmu adalah non materi maka ilmu adalah energi.
Dikarenakan energi maka mempunyai lapisan lapisan frekuensi yang mempunyai getaran dan gelombang yang berbeda.

Sedangkan jiwa manusia juga energi yang otomatis mempunyai frekuensi yang berlapis juga.

Sejatinya didalam dada manusia terdapat Maha ruang alam semesta raya yang tak berujung.
Ibarat mall maha ruang alam semesta raya yang berlantai tak berujung, maka kita mendarat di lantai berapa khan memang sesuai ketertarikan kita, belief system kita serta perjuangan kita sendiri berikut sistem dan tehnik seperti apa yang digunakan dan jangan lupa bahan bakunya seperti apa?

Efeknya macem macem, diantaranya ada yang masuk lantai lantai di basement sudah merasa cukup, atau sampai di lantai 3 sudah merasa puas, ada juga yang hanya bergerak di saf saf lantai tertentu akan tetapi merasa sudah naik beda lantai namun ada juga baru sampai di lantai 10 (misalnya) sudah merasa mentok dok paling puncak…he..9x.

Ingat hukum konservation energi yang mengatakan bahwa “energi selalu mencari frekuensi energi yang sama”.

Oleh karenanya,
Coba renungkan bahwa apabila seseorang mempunyai belief system bahwa emosi itu perlu, sakit hati itu oke dsbnya namun di satu sisi dia menjalankan sholat (yang berfrekuensi positif Al Haq) apakah bisa satu frekuensi?

Inilah terjawab kenapa banyak dari kita sholatnya kenceng, belajar ilmu Agama sampai S3 pun namun emosi emosi negatif  masih saja mendominasi, seperti amarah, susah memaafkan, mudah tersinggung, dengki, iri dsbnya penyakit hati tetap dengan suka cita dijalankan.

Aspek yang lain adalah,
Banyak juga yang rajin ibadah namun mempunyai ilmu ilmu yang bukan bahan baku Al Haq hakiki meskipun bacaan yang diajarkan berbahasa ke arab arab an dan di campur ayat ayat Al Quran dan mempunyai manfaat yang “nampak positif” akan tetapi ber energi bukan Al Haq hakiki.

Semua kondisi ini justru mendropkan frekuensi kualitas jati diri kita.
Karena banyak setelah sholat dikehidupan nyata masih saja emosi emosi negatif dan penyakit hati.
Atau setelah sholat membaca amalan amalan yang ber energi bukan kualitas Al Haq hakiki.

Belum lagi ditambah dengan kualitas menjalankan dan memaknai Sholat tersebut sudah masuk di frekuensi aslinya atau tidak.
Jadi komplet dech pakai telor…he..9x.

Bukankah Sholat sebagai tiang agama rahmatan lil alamin mempunyai frekuensi kewibawaan tersendiri.
Kita yang harus menyesuaikan ke frekuensi asli sholat dan pemaknaannya bukan sebaliknya.

Maka kenapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan sabdanya seperti tersebut diatas.
Berhati hatilah dalam menyerap ilmu, jangan tergiur dengan manfaat yang menyertai atau dijanjikan, selidiki dulu frekuensi jati diri bahan bakunya apakah di jalur Al Haq hakiki atau tidak.

Dan mari kita perangi diri untuk memanifestasikan sifat sifat Allah di kehidupan nyata.
Sebab jika kita tidak berubah maka kita tetap saja berjalan di tempat.

Ndak percaya?, amatilah kehidupan kita sekarang dan tarik.mundur 10 tahu  kebelakang, amati emosi emosi kita masih sama bukan?
Ach…hidup saya sudah sukses kok….hmmm sukses fisik (kaya, karir hebat, bisnis hebat) itu baik dan diperlukan dalam hidup namun hal tersebut tidak menjamin kaya jiwa.
Yang dinilai Allah bukan apa yang kita punya namun kualitas yang ada di dalam dada.

JADI CIPTAKAN PENGHEBATAN DALAM DIRI HARMONI DENGAN PENGHEBATAN DILUAR DIRI.

Maka sudahkah kita berkesadaran?
Kita mau move on atau move up?, move upnya kemana?….up beneran atau up kesamping?, atau merasa up namun justru meluncur terjun bebas kebawah.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan sebagai berikut :

Al Bukhari berkata, Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat). Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad [47]: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Salam kasih dan keagungan hidup
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Initiating Action for Global Grandness Leadership