MANUNGGALING KAWULO GUSTI

ManunggalingKawuloGusti

Quotes of the day
“Manunggaling kawulo – gusti adalah pemahaman yang berat dan sudah masuk dalam ranah ma’rifat serta berkonotasi sesat, namun jika kita menelisik dengan kecerdasan lebih luas serta penggalian lebih dalam, maka semuanya terbuka lebar dengan sangat luhurnya” B-AMA

Manunggaling Kawulo – Gusti

Manunggal = Menyatu
Kawulo = Hamba
Gusti = Tuhan Allah

Ada 3 sufi besar yang senada mengungkap konsep Manunggaling kawulo gusti dengan bahasanya masing masing, yakni :

(1) Syech Siti jenar

(2) Al Hajj

(3) Jalaludin Rumi

Yang saya bahas disini adalah sepenggal kisah Syech Siti Jenar

Profile frekuensi kulitas jati diri Syech Siti jenar :

Jika rata rata Wali Sanga kala itu frekuensi jati dirinya ada di 150.910.000.000 / detik (rata rata manusia di 67.000 / detik), maka frekuensi jati Syech Siti jenar ada di 310,350,000.000 / detik

Manunggaling kawulo gusti suatu istilah yang diluncurkan oleh Syech Siti jenar (Wali ke 10) kala itu.
Istilah ini diluncurkan setelah diskusi simultan beliau dengan Ki Ageng Pengging (ahli spiritual jawa kuno) kala itu.

Seperti Sunan Kali Jaga, syiarnya melalui wayang, maka Syech Siti Jenar berusaha masuk ke istilah jawa yang dipahami oleh orang jawa kuno kala itu.
Namun sayangnya diterima salah oleh wali yang lain, yang bersikukuh di aliran Sunni.

KEBENARAN KOLEKTIF BUKAN KEBENARAN MURNI
Setelah Syech Siti Jenar dihukum mati oleh Dewan Wali Sanga kala itu, dikarenakan ajarannya dianggap sesat.
Dan Syech Siti Jenar dihukum mati tanpa mengadakan perlawanan sama sekali setelah berjuang menjelaskan konsepnya di sidang wali tersebut.

Namun sesaat setelah dia menemui ajalnya, terjadi peristiwa luar biasa, yaitu jasad Siti Jenar mengeluarkan bau harum semerbak mewangi yang tiada taranya.

Atas kejadian istimewa itu para wali mengadakan pertemuan khusus dalam rangka acara penguburan jenasah yang sakral.
Sebelum diadakan upacara penguburan, Syekh Maulana Maghribi memeriksa mayat itu untuk mengetahui rahasia sampai mengeluarkan bau harum semerbak.

Tatkala keranda dibuka, terkejutlah para wali yang ikut menyaksikan jenasahnya.
Tiba tiba dari dalam keranda keluarlah cahaya yang terang benderang bagaikan bulan purnama.
Cahaya itu membentuk pelangi melingkar memenuhi ruangan dalam masjid, mengalahkan penerangan lampu.
Maka segera mayat didudukkan, kemudian para wali menghaturkan sembah lahir batin kepada jenasah Syekh Siti Jenar (Abdul Munir Mulkhan, 2000 : 179).

Mengapa para wali bersedia menghormat kepada seorang tokoh yang dianggap murtad?
Adakah para wali merasa bersalah karena terlanjur menghukum seorang martir suci Tuhan?, Hanya para wali kala itu yang tahu.

PENGGALIAN MAKNA
Plesetan Manunggaling kawulo gusti banyak kearah ngaku2 Tuhan.

Jalaluddin Rumi mengatakan sebagai berikut :
Aku adalah Tuhan bukanlah timbul dari sifat meninggikan diri.
Melainkan suatu kerendahan hati total.

Seseorang yang berkata :
“Aku adalah hamba Tuhan”, menyebutkan dua keberadaan, yaitu dirinya dan Tuhan.
Sedangkan ungkapan “Aku adalah Tuhan”,
berarti peniadaan diri, yakni dia menyerahkan dirinya sebagai kekosongan”.

PERCIKAN CAHAYA ILAHI
Setiap ruh manusia adalah percikan cahaya Ilahi.
Percikan ini berlapis lapis dan bertingkat tingkat tak berujung.
Itulah Kingdom of God yang ada didalam diri setiap manusia.
Itulah anugrah terbesar terhadap manusia, dan kenapa manusia disebut mahluk sempurna.
Tinggal perjuangan manusia itu sendiri sudah sampai di lapisan yang mana.

Gusti..maknanya Tuhan.
Nach Tuhan yang mana?
Tuhan dilapisan mana yang ada didalam diri?

Apakah hanya dari konsep diatas, kemudian diri ini mengatakan sudah menyatu dengan Tuhan?
Jika mengatakan sudah menyatu dengan Tuhan, buktikan dengan sikap dan perilaku nyata di kehidupan.
Harusnya ndak bertabrakan dengan sifat sifat ke Tuhanan bukan?

PERSONAL INNER JOURNEY.

Kawulo = Hamba, Sebetulnya jika ada Kawulo dan ada Gusti timbul suatu jarak.

Percikan caha Ilahi adalah merge, menyatu, maka ndak ada antara Kawulo dan Gusti.
Setiap manusia mempunyai pengalaman spiritual dalam dirinya.
Kualitas jati dirinya bergaris lurus dengan kualitas perjuangannya.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.
Perumpamaan nur Nya adalah ibarat sebuah misykat.
Dalam miskyat itu ada pelita.
Pelita itu ada dalam kaca.
Kaca itu laksana bintang berkilau.
Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu pohon zaiyun yang tumbuhnya bukan di timur ataupun di barat.
Yang minyaknya nyaris menyala dengan sendirinya meski tanpa tersentih api.
Cahaya itu di atas cahaya !
Allah membimbing siapa saja yang Ia kehendaki kepada Cahaya-Nya.
Dan Allah membuat perlambang bagi manusia, Allah Maha Mengetahui segalanya”
Surat An Nur : 35

Cahaya Illahi yang menerangi manusia sepenuhnya adalah hak Allah mau diberikan kepada siapa.
Dan hal ini bisa saja hanya orang biasa, tidak paham sedikitpun masalah belantika ilmu Agama.

Seperti yang disampaika oleh sufi wanita yang bernama Rabi’ah Al Adawiyah.
Dia menguraikannya ke sebuah syair sebagai berikut :
“Allah menutup hati mahlukNya dengan hijab yang halus
Para ulama terhalang karena keluasan ilmunya
Para Zahid terhijab karena ambisinya
Dan para hukama tak mampu menembus karena kehalusan hikmahnya.
Orang orang arif dan para pencinta sejati tak ada yang menghalanginya.
Hal itu karena mereka menempatkan kalbu sucinya dalam cahaya Ilahi”

Maka siapapun bisa dapet CahayaNYA.
Dan tidak harus menjadi ahli tafsir, ahli agama dan sebagainya.
Yang dilihat adalah kualitas rasa penyerahan diri pada Allah serta manifesasi sikap dan perilakunya sehari hari menceminkan cermin Ilahi atau tidak.

KEDALAMAN GUSTI DALAM DIRI
Sekali lagi gusti mana yang telah kita jumpai?
Gusti adalah percikan Cahaya Ilahi didalam diri setiap manusia.
Hanya percikan…bukan sumber dari percikan itu.
Pastikan kita menjumpai Gusti hakiki bukan gusti abal abal.

Marifatullah seharusnya bukan sekedar konsep, namun Marifatullah adalah getaran marifatullah itu sendiri.
Dan ini ndak bisa ditipu atau sekedar pencitraan ma’rifatullah.

Maka sudahlah kita berjuang secara total dan menyeluruh?, atau hanya berjuang dari aspek fisik syariat saja? dan hanya berangkat dari konsep ma’rifatullah semata? atau hanya sibuk di kehidupan rasional sebagai ukuran ke suksesan hidup?

Hidup  adalah pilihan.
Namun konsekwensi logis dari pilihan itu yang kita ndak bisa memilih bukan?
Semuanya harus dipertanggung jawabkan.

Salam kasih dan keagungan hidup
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Initiating Action for Global Grandness Leadership