MENAKAR AKAR MASALAH DIRI DAN KEHIDUPAN

Ke Dahsyatan hari ini “MENAKAR AKAR MASALAH DIRI DAN KEHIDUPAN”
Quotes of the day “Sejatinya mengubah akibat hanya bisa dilakukan dengan mengubah sebab, efektifitas mengubah sebab hanya dapat dengan memprogram resonansi (getaran dan gelombang) jati diri kita ! Maka kenapa kita masih saja fokus pada akibat ? dan tidak langsung ke akar masalah kita ? “B-SAMA

AKAR MASALAH
Banyak dari kita mencoba memahami dan menyelesaikan problematika hidup hanya berfokus pada akibat dan bukan pada akar masalahnya.
Padahal jika kita hanya menyelesaikan akibatnya, maka pengulangan dengan masalah yang sama akan terjadi lagi ber ulang – ulang.

Akar masalah itu ada dua :
(1) Sebab rasional, dikarenakan pertimbangan kondisi psikologis dan kejiwaan kita pada saat itu dalam mengambil keputusan suatu pilihan hidup sehingga berdampak pada akibat tertentu.

(2) Sebab resonansi (getaran dan gelombang), pemahaman ini berfondasikan pada bahwa setiap diri ini adalah energi. Kita sepenuhnya 80% dipengaruhi oleh energi apa yang mendominasi diri.
Maka energi ini pula yang mempengaruhi kesadaran, keyakinan, kebenaran dan membentuk kebiasaan dalam diri.

Contoh jika dalam diri ini di dominasi oleh suatu energi yang berkandungan rata – rata (+) nya 31% dan (-) 69%, maka kebenaran – kebenaran yang bersangkutan, keyakinannya, kesadarannya ya sepenuhnya sesuai dengan frekuensi energi tersebut. Seperti marah itu perlu, jutek itu ok, benci itu layak, dendam itu wajar dan sebagainya. Namun di satu sisi yang bersangkutan juga bisa merasa damai, bisa ketawa bahagia dsbnya…ini dikarenakan kandungan (+) 31% tersebut, namun lebih banyak didominasi oleh (-) 69%.
Ini rata – rata ya, ada yang kandungan (+) nya hanya 10%, bahkan ada yang cuman 2%.

Energi negatif yang dimaksud disini bukan seperti pengertian tradisional penampakan, hantu dan lain lain…namun suatu konsentrasi energi negatif yang sudah berkarakter yang menetap di jati diri sanubari manusia serta mendominasi langsung terhadap kesadaran, keyakinan dan kebenaran kita !
Bandingkan dengan dominasi suatu energi dalam diri seseorang yang murni positif dengan kandungan seperti berikut (-) 0% dan (+) 100%, atau (-) 0% dan (+) 300%, (-) 0% dan (+) 700%, dan seterusnya, makin tinggi kualitas kandungan energi positifnya makin tangguh dia dalam kestabilan keluhuran budinya ! Belum lagi kita bicara getaran energi tersebut !

ZERO POINT
Sering kita melihat di lapangan kehidupan, baik berkenaan dengan diri kita sendiri maupun orang lain bahwa kita sering melakukan suatu kebiasaan negatif yang berulang, seperti marah, jutek, galau, benci, dendam, sirik dan sebagainya.
Padahal bukankah banyak sekali para motivator juga arahan dari agama, arahan orang bijak, arahan dari para master, sudah mengatakan bahwa hal tersebut tidak baik dan merugikan diri sendiri namun kenapa kita selalu sering tetap melakukannya ?

Ketika mendengarkan arahan dari para motivator, guru, orang bijak…kita paham dan meng angguk angguk namun kenapa di lapangan kehidupan nyata ketika kita berbenturan dengan masalah yang sebenarnya kita goyah ?, yang tadinya sudah janji untuk menjadi orang sabar…jadi ngamuk an lagi !, yang tadinya janji untuk tidak galau an…malah lebih hebat galaunya !…dan lain sebagainya.

Ada juga yang ikut seminar motivasi kesana kesini, baca berbagai macam buku motivasi namun tetap saja ndak nendang !, banyak kasus yang ikut workshop, seminar, pelatihan dan lain sebagainya ada perubahan di permukaan yaaa paling lama 6 bulan dech…setelah itu kembali ke habitat semula …kebiasaan semula seperti sebelum ikut pelatihan .he..7x …memprihatinkan sekali ya ?….ech namun dirinya ndak merasa prihatin lho…bagi yang bersangkutan hal tersebut dianggap biasa – biasa saja…ok ok saja..khan banyak temannya seperti itu…ndak sendirian,,,jadi kalau banyakan khan dianggap bener ?…lha wong dilakukan berjamaah !…he..7x

Hal tersebut saya uraikan karena lebih dari 12 tahun saya mengikuti banyak pelatihan motivasi dalam dan luar negeri baik biaya sendiri maupun di biayai oleh kantor. Saya melakukan survey pribadi…respondennya saya acak baik top management, midle managamentt maupun lower management. Wach semuanya sama. Dan semua pelatihan tersebut tidak ada sistem navigasi yang tepat bagi bekal pesertanya di lapangan kehidupan nyata setelah mengikuti pelatiahn atau workshop maupun seminar tersebut ya akibatnya begitu dech. Memang tidak semua peserta seperti itu, namun dari survey saya tersebut proporsinya 91% masih tetap kembali ke habitat semua, sisanya sebesar 9% perlahan mulai bertumbuh ada juga yang hanya stabil jalan di tempat.

Nach fenomena apakah ini ?, paham sich paham dengan segala bentuk pelatihan dan buku yang dibaca..lha kok tidak nendang di kehidupan nyata ?….ya karena masih banyak berkutet dengan kecerdasan emosi atau pemrograman pikiran saja…ndak menyentuh langsung ke akar masalahnya !. Maka jika kita ingin menyelesaikan masalah dalam diri tentunya harus langsung ke akar  masalahnya ! Dan akar masalah ini hanya dapat dibongkar apa bila kita menyentuh sampai ke tingkat level energi. Sebab energi lah merupakan satuan dasar pembentuk kehidupan !

Nach hal inilah yang tidak disentuh sama sekali, ada juga pelatihan yang menyentuh energi namun baru menyentuh energi psikologi saja belum energi jati dirinya !, dan banyak juga yang berlatih energi namun yang dikejar urusan kesaktian, kemampuan supranatural, kemampuan metafisik…seperti bisa menerawang, bisa memukul jarak jauh, bisa mindahkan barang tanpa menyentuh dsbnya…alhasil kualitas jati dirinya yang harusnya dibenahi tidak tersentuh sama sekali.

Namun sebaik baiknya tehnik hanya akan dapat efektif apabila diri ini cukup rendah hati untuk menyatakan pada diri sendiri (tidak usah ke orang lain) “hooeeee saya ini bermasalah, sudah stop sampai disini saja, mulai sekarang saya akan berubah total dan saya akan memperbaiki sistem dan tehnik saya untuk menjadi pribadi yang lebih mulya mulai dari titik zero point saya !”,

INDAHNYA MERAK DIRI
Sedangkan jika diri ini selalu merasa benar, padahal survey di lapangan kehidupan selama ini membuktikan bahwa pikiran, perasan dan sikap kita banyak melakukan hal – hal yang tidak baik terhadap diri sendiri dan sesama, maka cara apapun, sistem apapun dan tehnik apapun tidak akan pernah berhasil karena diri ini tidak rendah hati untuk membuka diri.

Mereka – mereka ini yang tidak pernah instropeksi diri, tidak pernah memperbaharui diri untuk “menjadi lebih baik” (saya gunakan tanda petik untuk penekanan bahwa pembaharuan diri harusnya MOVE UP / menanjak dilihat dari semua spektrum atau kaca mata kehidupan, baik perilaku nyata kehidupan maupun kualitas secara resonansi !, sebab banyak yang niatnya pembaharuan diri namun malah MOVE DOWN / turun kebawah, hanya fokus pada manfaat bukan pada bahan baku energinya, maka yang didapat tidak menyeluruh…tampak bagus di permukaan namun secara energi jati diri keropos !) tidak ada bedanya seperti burung merak yang lagi mengembangkan sayap dan ekornya bangga akan keindahannya, namun itu hanya selimut bulu indah, sedangkan didalamnya tidak seindah warna aslinya atau malah memang didalam dan diluar tidak indah namun bangga lagi !, bahwa sikap dan perilaku yang dia luncurkan dari sebab respon suatu masalah baginya adalah suatu kelayakan yang nyata !

Nach pada akhirnya kita harus jujur pada diri, bahwa adakah sesuatu yang tidak beres dalam diri ini atau kita malah bangga akan ketidak beresan tersebut ?, ingat alam (alam yang saya maksud adalah dari kualitas alam positif terendah yaitu keluhuran, kemudian alam kejayaan dstnya…bukan di alam yang berenergi negatif / alam inner world) tidak bisa ditipu, alam tidak bisa dimanipulasi !, jika kita selalu berbenturan dengan alam keluhuran maka kualitas efek benturan itulah yang menjadikan diri kita ini !, ndak perlu kita sepandai apapun, sekaya apapun, sesakti apapun, sehebat apapun !, alam ndak butuh itu yang dibaca dari diri kita oleh alam adalah getaran jiwa kita sudah masuk kuadran mana nach itulah yang direspon oleh alam. Juga yang harus kita sesuaikan dengan alam adalah resonansi jati diri kita, kita yang menyesuaikan dengan alam dan bukannya sebaliknya !.

Saya tidak mengatakan bahwa kekayan dan kemakmuran serta kecerdasan itu tidak perlu, bukan demikian yang saya maksud !, semuanya itu penting dan perlu sebab dengan kita tidak kaya dan makmur bagaimana kita akan membantu sesama secara finansial ?, jika kita tidak cerdas maka kita banyak diakali oleh sesama!. Maksud saya disini adalah akar masalah dan fondasi itu semua adalah kualitas jati diri kita dulu yang perlu dibenahi karena ini posisi sentral kualitas diri kita dalam merajut hidup seperti apa yang hendak kita desain ! bukankah begitu ?

SALAM KASIH DAN KEDAHSYATAN HIDUP
To Love To Care To Give
Navigator Eksekutif
Lembaga Indikator Resonansi Autentik Spiritual