PINDAH ALAM

20 Mar 2014

Kedahsyatan hari ini “PINDAH ALAM”
Quotes of the day “Dalam kehidupan fisik apabila kita mau melakukan perjalanan maka kita memerlukan perencanaan yang tepat, baik teman perjalanan, tujuan perjalanan, perbekalan perjalanan, dsbnya. Dan yang melakukan perjalanan adalah tubuh fisik kita, maka kita memastikan agar tubuh fisik ini tercukupi kebutuhannya.
Bagaimana ketika tubuh fisik hancur ?, maka yang berpindah adalah tubuh halus kita plus dengan ruh kita !, Sudahkah kita mempersiapkan perencanaan yang matang untuk mensukseskan perjalanan tubuh halus dan ruh kita ? B-SANMA

SEMUANYA MENGALAMI
Baru tadi malam kami mendapatkan kabar bahwa tambah salah satu sahabat waktu SMA telah berpulang ke Tuhan Allah Sang Maha Dahsyat.
Selamat jalan wahai sahabat, berpulanglah dengan penuh kedamaian kepada BELIAU.

Kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang lumrah kepada seluruh mahluk. Yang berbeda satu sama lain adalah bagaimana sistem dan tehnik yang digunakan dalam melakukan perencanaan sebagai bekal melakukan perjalanan tersebut. Perjalanan ini berbeda dengan kehidupan fisik. Perjalanan ini adalah suatu model perpindahan alam, yaitu dari alam fisik ke alam astral.
Kita sendiri yang mendesain sasaran atau tujuan yang hendak kita capai, desain ini tentunya kitalah yang memperjuangkannya.

LOGIKA PERJALANAN ALAM
Khusus perjalanan yang unik ini kita bebas memilih cara mana yang mau digunakan sebagai refrensi persiapan perjalanan kita.
Adapun refrensi tersebut ada banyak :
(1) Refrensi agama
(2) Refrensi budaya
(3) Refrensi spiritual
(4) Refrensi logika alam

(1) Refrensi agama
Masing – masing agama mempunyai sistemnya sendiri.
Dan masing – masing agama menjanjikan jalan kebebasan sendiri.
Misal agama A, mempunyai jalan kebebasan sendiri.
Agama B, mempunyai jalan kebebasan sendiri
Agama C, D, E ,F dstnya..semuanya mempunyai sistem jalan kebebasan sendiri.
Masalah timbul ketika masing – masing agama dengan jalan kebebasannya tersebut mengklaim jalan di agamanya itu yang terbaik.
Jadi jika bukan jalan agama A, maka jalan yang lain pasti sesat atau celaka atau merugi.
Jadi sampai detik ini sepanjang sejarah peradaban manusia belum ada yang berhasil mengindentifikasi yang terbaik sistem jalan kebebasan agama yang mana.
Malah yang ada banyak pertempuran dilakukan antar agama tersebut untuk mengklaim bahwa jalan kebebasan agamanya itu yang terbaik.

(2) Refrensi Budaya
Setiap budaya mempunyai kearifan lokal tersendiri. Contoh bangsa Viking, ketika meninggal matanya ditutup dengan koin uang, kemudian jasadnya diletakkan disebuah perahu di air yang mengalir kemudian perahu tersebut dibakar.
Jadi menurut bangsa tersebut hal itu adalah hal yang terbaik yang sangat perlu dilakukan untuk membantu yang meninggal agar sampai di tempat tujuan yang terbaik dengan bekal perjalanan yang nikmat.
Pertanyaannya bagaimana dengan budaya yang lain yang tidak melakukan ritual yang sama, namun mempunyai sistem ritual yang berbeda yang dipercaya adalah versi terbaik dari budaya tersebut ?

(3) Refrensi Spiritual
Spiritual disini adalah spiritual yang sifatnya universal.
Meskipun kita sadari bahwa di lapangan kehidupan nyata banyak sekali menjalani kehidupan spiritual dicampur adukkan dengan agama. Alhasil ada spiritual agama A, maka jadi spiritual A. Agama B jadi spiritual B dstnya.

Sesungguhnya ketika kita berkomit masuk ke dunia spiritual (perlu digaris bawahi dengan garis yang sangat tebal bahwa dunia spiritual bukanlah dunis supranatural atau metafisika), maka kita sejatinya memposisikan diri sebagai “being” atau entitas hidup yang sifatnya universal, lepas dari semua baju agama dan berdiri di semua agama atau keyakinan.

Dengan refrensi spiritual, maka perspektifnya adalah menitik beratkan pada tanggung jawab hidup kepada sesama dan alam. Spiritual lebih menitik beratkan pada bagaimana kita bersikap dan merespon di hidup dan kehidupan kita. Jika kita memulyakan kehidupan maka kita mendapatkan tempat yang mulia setelah pindah alam.
Jadi terlepas dari keyakinan apapun, agama apapun, budaya apapun intinya yang dinilai adalah sikap, perilaku dan cara kita merespon hidup dan kehidupan. Sebab disinilah bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia.
Inilah garis besar pemahaman spiritual. Namun yang saya uraikan diatas adalah pemahaman Rasio spiritual belum masuk ke dikedalaman resonansi spiritual.

(4) Refrensi Logika alam
Refrensi terakhir ini sebetulnya fondasinya refrensi no 3.
Namun lebih kearah resonansi spiritual.
Resonansi adalah getaran dan gelombang.
Nach kalau kita bicara getaran dan gelombang maka ndak bisa dihindari kita bicara energi.
Kita ini adalah energi.
Hidup adalah energi
Alam itu energi
Maka kita hidup dilautan energi.
Dalam hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi akan mencari atau menarik atau berpijak pada frekuensi yang sama.
Nach alam bumi fisik itu mempunyai frekuensi.
Begitu pula alam – alam non fisik.
Sedangkan alam non fisik ber lapis – lapis !
Yang terendah saja ada 56 lapisan, setelah itu alam – alam diatasnya ada sekitar 100 an, group lapisan berikutnya ada sekitar 900 lapisan alam, kemudian group lapisan alam berikutnya ada 3000 an lapisan alam, setelah itu group lapisan berikutnya ada sekitar 2 jutaan lapisan alam, puyeng yak…he..7x..memang ndak ada ujungnya…dan group yang ada berikutnya… belum lengkap informasi secara spiritual.
Nach mau menuju ke alam mana nich diri ini ?

Setiap alam ini mempunyai frekuensinya sendiri.
Nach masing – masing ruh ketika meninggalkan raganya secara otomatis berdasarkan hukum kekekalan energi (bukankah ruh itu energi ?) akan tertarik ke frekuensi yang sama bukan ?
Itulah pilot otomatis yang menarik kita dan membawa kita ke rumah alam berikutnya !

Permasalahannya tinggal ada di frekuensi mana ruh kita ?
Inilah berbanding lurus dengan bagaimana kita memulyakan hidup dan kehidupan selama kita masih didalam tubuh fisik ini.

Maka pesan moral uraian saya kali ini, terserah kita mau menggunakan refrensi yang mana..bebas..namun konsekwensi logisnya itulah yang kita dapat.
Terlepas dari semua itu, mari kita sama – sama berusaha dan berjuang untuk memulyakan kehidupan.
Manifestasi keimanan dan ketaqwaan kita itu adalah sikap dan perilaku kita di kehidupan.
Dari situlah membentuk frekuensi alam jati diri kita, itulah frekuensi alam ruh kita.

Mudah – mudah an uraian ini memperdalam kualitas keimanan dan ketakwaan kita semua, amin

SALAM KASIH DAN KEDAHSYATAN HIDUP
To Love To Care To Give
Navigator Eksekutif
Lembaga Indikator Resonansi Autentik Spiritual