RESONANSI HATI YANG BERSIH

RESONANSI HATI YANG BERSIH
(Suatu kajian Energi Al Haq Tazkiyatun nafs)

HatiYangBersih
Quotes of the day
“Hati yang bersih berangkat dari qolbu bukan dari pikiran.
Hati yang bersih bukan pencitraan.
Hati yang bersih bukan hanya sekedar sikap yang baik. Hati yang bersih bukan hanya hebat di teori.
Hati yang bersih bukan naik turun tergantung kondisi.
Hati yang bersih adalah seperangkat kondisi jiwa yang bertumbuh keatas setiap saat” B-AMA

Judul tulisan ini “Hati yang bersih”, saya terinspirasi dari kajian seorang imam besar dari luar yang memberikan tabligh akbar dengan pendekatan kajian Tazkiyatun nafs.
Beliau adalah Prof Dr, Washiyullah abbas al hadis mekah,guru besar universitas umull Qura, pengajar tetap masjidl haram Saudi Arabia.

Kajian beliau dalam persepektif etimologis sesuai dengan refrensi ekpertisenya, maka dalam kesempatan ini saya berbagi kajian kebersihan hati / jiwa dari aspek kedalaman resonansi jati diri berikut uraian singkat kajian etimologis.

Sebab dalam aspek kecerdasan resonansi (getaran dan gelombang) jati diri kita tidak cukup hanya berhenti di kedalaman etimologis namun bagaimana penerapannnya di jiwa kita sendiri dan bagaimana ukurannya? serta solusi seperti apa yang mempunyai daya ungkit, daya dobrak dan daya tembus yang mewakili permasalahan dalam diri manusia yang berbeda di tingkat kedalamannya, kekuatannya dan kekerasannya.

Hati / jiwa adalah non fisik.
Karena non fisik maka bentuknya energi.
Maka untuk mencapai hati yang bersih / purification of the soul ideal hakiki ndak bisa hanya cukup dengan kecerdasan emosi atau rasional agama / spiritual.

Agar optimal perlu dilengkapi dengan bahasa energi yaitu menyentuh dalam kedalaman resonansi agama / resonansi spiritual.
Sebab hambatan dalam diri manusia bentuknya juga energi, tidak kelihatan dengan mata fisik namun ada.

Dikarenakan Islam adalah Rahmatan lil alamin, maka dalam tulisan ini juga diberikan solusi bagi yang non muslim.

KAJIAN SINGKAT ASPEK ETIMOLOGIS
Dalam literatur Islam etimologis Tazkiyatun nafs berarti ; membersihkan jiwa, memperbaikinya dan menumbuhkannya agar menjadi semakin baik serta mengembangkan potensi baik jiwa manusia.

‘Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan mentazkiyah (mensucikan)mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah.” (QS.3:34).

Kita sering menyibukan diri kita dengan kebersihan badan saja. Padahal Mandi mental yaitu kebersihan jiwa jauh lebih penting dari pensucian badaniyah.

Karena prilaku dan perbuatan manusia sangat tergantung pada kondisi hati yang ada di dalam dirinya. Apabila hatinya bersih dan baik, prilakunya baik dan sebaliknya apabila hatinya kotor dan buruk prilakunya juga akan buruk.

Rasulullah bersabda “ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada suatu organ (mudqoh), apabila ia baik, baiklah seluruh tubuhnya, apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh it. Dan organ itu adalah hati.”

Jadi perbaikan diri dan perilaku kita harus dimulai dari dalam diri kita sendiri, dari hati kita. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu Nasib suatu kaum sehngga mereka apa yang ada dalam diri. Dan organ itu adalah hati”.(QS.13:11)

Salah satu hadis mengatakan
Seorang sahabat nabi SAW bernama Wabishah bin Ma’bad bertanya masalah ahlak yang baik / hati yang baik, maka kanjeng nabi menjawab :
Engkau datang menanyakan kebaikan?, benar wahai Rasul, jawab Wabishah.
Nabi bersabda,
“Tanyailah hatimu !”
“Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang tentram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa” (HR Ahmad dan Ad Darimil).

KAJIAN SECARA RESONANSI JATI DIRI
Setiap jiwa adalah energi.
Energi mempunyai getaran dan gelombang.
Getaran dan gelombang mempunyai frekuensi jati diri.
Maka setiap manusia mempunyai frekuensi kualitas jati diri.
Frekuensi kualitas jati diri berlapis lapis dan ber tingkat seperti anak tangga mal kehidupan alam semesta yang ndak ada ujungnya.

Frekuensi kualitas jati diri merepresentasi kualitas nilai nilai kehidupan seseorang.
Rata rata frekuensi kualitas jati diri manusia ada di 67.000 / detik, idealnya minimal 12 milyar / detik.

Contoh nilai nilai kesabaran, keharmonisan, hati yang bersih dsbnya yang ada di diri seseorang kualitasnya beda tergantung frekuensi kualitas jati dirinya.

Hati yang bersih di frekuensi jati diri 67.000 / detik berneda dengan yang di 90.000 / detik…atau di 300 ribu / detik atau di 12 milyar / detik atau di 150 trilyun / detik dstnya.

ADAPUN PROFILE HATI YANG BERSIH DARI ASPEK RESONANSI JATI DIRI ADALAH :

1) Minimal frekuensi jati diri di 12 Milyar / detik
(Rata rata manusia di 67.000 / detik)

2) Bebas total dari segala jenis energi negatif
(Rata rata manusia ada 3 energi negatif dalam dirinya dengan tingkat penetrasi 78%)

3) Tingkat penetrasi energi Asmaul Husna haliki minimal 1200%.
(Rata rata manusia 1,8%)

4) Tingkat Kerendahan hati, minimal 1.280%
(Rata rata manusia 21%)

5) Tingkat Kendali emosi, minimal di 2.700%
(Rata rata manusia 33%)

6) Tingkat keharmonisan jati diri, minimal di 500%
(Rata rata manusia 41%)

7) Tingkat Empati, minimal di 1.100%
(Rata rata manusia di 31%)

8) Tingkat Ekspresif hakiki, minimal di 511%
(Rata rata manusia di 43%)
Ekspresif adalah ketertarikan kita pada orang lain dan dunia disekeliling kita.
Orang Ekspresif mempunyai sikap penuh pengendalian, tenang, tertutup dan mandiri.

9) Tingkat ke asertifan hakiki, minimal di 710%
(Rata rata manusia di 63%).
Asertif adalah menyangkut energi kita dalam mengkomunikasikan pikiran, keyakinan dan perasaan kita.
Orang Asertif umumnya bersikap santai, ramah dan terkadang pasif.
Orang asertif hakiki terkadang suka berkonfrontasi positif sampai di titik tertentu, namun setelah itu fia membebaskan dirinya agar tidak terjebak akunya.

10) Tingkat Fleksibilitas hakiki, minimal di 230%.
(Rata rata manusia di 41%)
Fleksibilitas hakiki bermakna bahwa dalam tingkat tertentu berusaha mengakomodasikan pikiran dan perbuatan orang lain, namun di tingkat tertentu juga tegas di positioning tertentu.

11) Tingkat Pembelajar hakiki, minimal di 2.300%
(Rata rata manusia di 78%)
Menjadi manusia pembelajar adalah rendah hati dan selalu mengosongkan gelasnya.

Terhadap suatu pengetahuan baru, manusia pembelajar selalu bersikap bertanya bukan mempertanyakan.

Terhadap suatu pengetahuan baru, manusia pembelajar selalu terbuka dan tidak terjebak oleh dogma dogma yang kaku.

Selalu bertumbuh frekuensi kualitas jati dirinya keatas dari waktu ke waktu bukan tumbuh ke samping namun merasa keatas.

SOLUSI.MENCAPAI RESONANSI HATI YANG BERSIH

Sekali lagi hati / jiwa adalah non fisik.
Karena non fisik maka bentuknya energi.
Solusi tidak cukup hanya dengan kecerdasan emsoi atau rasional agama / spritiual.
Maka selain memperkuat kecerdasan emosi dan soft skill juga dilengkapi dengan solusi bahasa energi yaitu afirmasi.
Namun afirmasi ya sesuai dengan daya tampung afirmasi tersebut untuk spesifiak energi yang cocok.

(1) Kembali ke original check point frekuensi kualitas jati diri hakiki di 12 milyar / detik.

(2) Selalu membaca afirmasi resonansi hati yang baik yaitu :
Bagi muslim :
Laa ilaaha illallaahu subhaana malikil qudduus ya Arhamar rahimin.
Tiada Tuhan yang berhak disembah selain allah,mahasuci raja yang mahaqudus lagi maha Pengasih dan Penyayang.

Bagi non muslim :
Tuhan Allah maha dahsyat penguasa puncak tertinggi seluruh alam maha suci, maha pengasih lagi maha penyayang.

KAJIAN RESONANSI AFIRMASI DZIKIR
Profile afirmasi dzikir :Laa ilaaha illallaahu subhaana malikil qudduus ya Arhamar rahimin”

Mempunyai frekuensi jati diri terendah di 1.300 Trilyun
* Berisi aparat Ilahi jalur Nur dzatullah berjumlah 1.900 Trilyun 4x
* Pusat energinya berada di alam ketakwaan / kesucian hakiki ( 1.027 Oktoliun^3 km dari alam Firdausin. Oktoliun = 10^27).

Nach begitulah kajian hati yang bersih manusia dari perpsektif kecerdasan resonansi jati diri.
Mudah mudah an informasi ini bermanfaat positif bagi pembaca….amin.

Salam kasih dan keagungan hidup
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Initiating Action for Global Grandness Leadership