RUN TOWARD GOD

16 Dec 2015

TowardToGod

# RUN TOWARD GOD #
(Lari menuju Allah)
“Jika hamba KU mendekatiKU satu jengkal maka AKU akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekatiKU satu hasta AKU akan mendekatinya satu depa.
Jika dia datang pada KU dengan berjalan maka AKU akan mendatanginya dengan berlari.
(Hr Bukhari – Hadits Qudsi)

Saudaraku yang baik hatinya, apa kira kira dalam benak kita membaca hadits Qudsi diatas?
Bagaimana kita memaknainya?
Tentunya cara memaknainya bisa beda beda tergantung frekuensi kualitas jati diri masing masing yang menghasilkan paradigma dan belief system yang berbeda.

LEARN FROM RUNNER
(Belajar dari Pelari)

Untuk memaknai hadist Qudsi diatas mari kita belajar dari pelari.
Jika kita belajar dari atletik pelari, banyak jenisnya yaitu :
*) Lari jarak pendek / lari sprint (100 m s/d 400 m)
*) Lari Jarak Menengah (800 m s/d 1.500 m)
*) Lari Jarak Jauh (3.000 m s/ d 10.000 m)
*) Lari Estafet (100 s/d 400 m bergantian)
*) Lari Gawang (100 m s/d 400 m dengan hambatan gawang tinggi sekitar 91cm)

Nach tentunya psikologi, sistem dan tehnik latihan, power yang dihasilkan, etika, sasaran semuanya berbeda satu sama lain dari macam lari tsb bukan?.

Begitu pula dengan Run Toward God.
Setiap pelari pasti berlari menuju sasaran, dengan kata lain menetapkan dulu sasarannya.
Pastikan sasarannya memang Tuhan dari segala Tuhan, Tuhan penguasa segala kerajaan, Tuhan yang tidak diperanakkan maupun beranak, Tuhan yang Esa, tidak ada lagi saingannya.

” Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, Al Mulk ayat 1.

Nach untuk menuju Tuhan Allah sesuai dengan Al Mulk ayat 1 dan surat Al Iklash, bukankah kita seharusnya menyesuaikan ke syarat syarat yang berlaku versi BELIAU, bukan versi kita.

Hal ini menjadikan cara kita berlari, sistem dan tehniknya ya menyesuaikan, ndak ada tawar menawar.

* Jika kita lari sprint berbeda dengan lari jarak jauh, bukankah dari sepatu s/d cara berlari dan mengatur nafas berbeda bukan?

* Jika kita lari namun kaki kita masih diikat oleh beban bagaimana kita akan lari?

* Jika kita lari dengan membawa ransel, bagaimana kita akan bersaing dengan pelari lainnya yang tanpa membawa ransel?

Maka, perlu dikaji hal tsb.
* Dalam berlari ke Allah, ikuti aturanNYA, bukan sebaliknya.
Dalam berlari menujuNYA, selain sasaran jelas ndak keliru yang abu abu juga perlu disesuaikan sistem dan tehnik yang tepat bukan hanya dipermukaan namun menembus kedalaman (yang repot itu mereka yang masih main dipermukaan namun yakin main dikedalaman, bahkan malah menyalahkan mereka yang sudah berselancar di palung palung terdalam yang tiada ujung di Samudra Ilahi, bahwa yang dilakukan itu ndak tepat dan lain sebagainya)

* Dalam berlari ke Allah, harusnya siap melepaskan semua tali penggikat dogma politik Agama.
Bagaimana akan sampai ke tujuan jika dirinya sendiri bersuka cita mengikat diri yang justru menghambat dirinya?

* Dalam berlari ke Allah, letakkan / copot beban emosi dan penyakit hati diri (analogi ransel, bisa saja didalam ransel tersebut berat beban beda beda)
Bagaimana jika di satu sisi kita berlari kencang, namun di saat bersamaan pada waktu lari, masih saja ngomel ngomel?, yaitu tidak meninggalkan emosi negatif dan penyakit hati (tidak mencopot ransel diri)

* Dalam berlari ikuti jalur / path yang murni, bukan path yang penuh variasi, akhirnya sampainya di sasaran abal abal namun nampak seperti sasaran yang sebenarnya.

* Tidak ada lari menuju Allah itu santai seperti tamasya.
Yang ada seperti lari gawang, banyak hal yang harus dilompati (rintangan).
Kata kuncinya kita harus berjuang habis habis an lahir dan batin.
Kalau semuanya bisa dicapai dengan mudah apalagi bersandar dengan janji dogma dan politik agama yang dimaknai untuk kenikmatan manusia bukan kesucian murni itu sendiri, maka mana makna perjuangannya?, mana makna tanggung jawab hidupnya?

* Pastikan yang guide Anda untuk melalui path yang haq benar benar sudah melaluinya, bukan bersandar dari kata guru dan guru tersebut juga yang kata guru yang kata gurunya lagi, yang kata gurunya lagi dstnya (yang semuanya guru ini belum ngalami penjelajahan itu sendiri).

Apalagi yang bergerak hanya teori serta bermain di psikologi agama, bukankah seharusnya telah menjelajah langsung dan lulus dengan baik.

Bukankah jika bersandar dari hal hal seperti itu hanya percaya pada dongeng semata.
Bukankah kalau ada dikatakan bahwa ada tempat nasi goreng yang enak, untuk membuktikan enaknya seperti yang diceritakan, ya kita harus buktikan sendiri bukan?

THE BOTTOM LINE
Jadi memaknai Hadits Qudsi atau ayat ayat penghibur lainnya, jangan hanya makna kata, sebab kita bisa terjebak dalam ruang semu.

Hadits Qudsi dan ayat ayat penghibur lainnya mempunyai dua hal, pertama perumpamaan kedua mempunyai prasyarat.

Maka makna hadist qudsi diatas, Allah akan mengkondisikan hal tersebut apabila syarat syarat berlaku (syarat syarat versi Allah bukan versi pengertian kita sendiri).

Contoh yang lain adalah
Misal jika kita akan bepergian dalam waktu hujan kita tidak akan basah, ya syaratnya pakai payung plus jaket bukan?

Nach cara memperoleh payung plus jacket ininkhan macem macem caranya, jenisnya, mereknya, kualitasnya jacket dan payung juga macem macem.

Begitulah, jadi dalam memaknai suatu hadis atau ayat sebaikknya dikaitkan dengan ayat lainnya yang penuh dengan syarat syarat yang berlaku.

Dan untuk kesekian kalinya, jika kita menjelajahi dunia spiritual Agama, ndak bisa hanya dengan kesadaran indrawi, karena ndak bisa dihindari harus dilengkapi dengan kesadaran non indrawi agar betul betul kaffah (totally Cover Both Side)
Bukankah salah satu rukun Iman, disebutkan Iman kepada Ghaib?, nach bagaimana Anda memaknai hal tersebut?

MENDEKATKAN DIRI SEDEKAT MUNGKIN PADA ALLAH

ALLAH itu Maha Suci, Maha Bening, Maha Bersih.
Bagaimana kita mendekat pada BELIAU yang nota bene sumber dari segala sumber yang bersih, namun diri ini masih belum total bersih?.

Kebersihan itu bukan hanya lapisan jasad, namun seluruh lapisan dalam jiwa itu bersih.
Salah satu usaha usaha mendekatkan diri pada Allah adalah melalui program Detox, yang membersihkan semua lapisan jiwa dari Nafs sampai dengan Sirr dan kembali ke tahapan murni frekuensi jati diri asli haq hakiki berikut dibekali personal GPS sebagai sistem cek and rechek di kehidupan nyata.

Semuanya ini dapat Anda ikuti di
TS-CODE BOOT CAMP FOR ZERO DIVINE SOUL DETOX (http://www.ts-code.net/ts-code-bootcamp-for-zero-divine-soul-detox/) merupakan penggodokan jiwa selama 3 hari 2 malam (tatap muka) atau jarak jauh.

Insya Allah program ini merupakan fondasi holistik Al Haq berbasiskan energi Al Haq hakiki sebagai salah satu bentuk perjuangan mendekatkan diri sedekat mungkin pada Allah.

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati “(At-Tagabun [64] : 4)

Mudah mudahan informasi ini membawa kita kedalam samudra Iman dan Takwa lebih dalam lagi.

Zero Infinity Multi Universe Sajadah
Salam Allahu Robbi
To Love – To Give – To Care
Baginda Adam Muhammad Akbarnahu
Navigator Executive
Grandness Leadership Intelligent Center
Initiating Action for Global Grandness Leadership

TS-CODE Technology
The Inner True-Self Blue-Print Enhancement
Journey to the main source Sustainable Excellence